Kamis, 30 Januari 2014

Changer-nya Maitre Gims

#laguyangseringdiputermingguini



Terjemahan lirik
Sumber: lyricstranslate.com

Simpan Semangat (dan Kerupukmu) dalam Wadah (dan Kaleng Kerupuk)

Jika semangat diibaratkan kerupuk, seperti apa dia?
ilustrasi : kaleng kerupuk
Sumber: id.wikipedia.org
  • Kerupuk : Sebagai pelengkap dalam makanan, menambah cita rasa masakan. Bagi beberapa yang lain, kerupuk menjadi camilan atau bahkan appetizer, dan penggugah rasa.
  • Semangat : Sebagai pelengkap hidup, menambah cita rasa pekerjaan. Bagi beberapa yang lain semangat akan memberikan passion dan guidance atas segala perbuatan.
Sebagaimana halnya krupuk yang disimpang dalam kaleng agar terjaga dan tidak melempem, semangat pun harus sering dijaga dan disimpan agar tetap terjaga dan tidak melempam.

ouooo haha

Perilaku Hoarding dan Ancaman Redenominasi

Ilustrasi Uang Receh
Sumber: merdeka.com
Kembaliannya Rp23.800 ya pak!”, begitu kalimat akhir dari kasir yang sering kita temui di swalayan modern. Dengan sejumlah nominal kembalian tersebut, kira-kira kita akan mendapatkan satu lembar uang dua puluh ribuan, satu lembar uang dua ribuan, satu lembar uang seribuan, satu keping uang lima ratus, satu keping uang dua ratus, dan satu keping uang seratus rupiah –kok mirip pelajaran sewaktu SD gini-. Secara reflek, jikalau mengalami peristiwa seperti ini biasanya saya memasukkan uang kertas kembali ke dompet sedangkan uang logam dan struk belanjaan akan masuk dalam saku celana. Uang receh ini biasanya baru saya kumpulkan dalam wadah tersendiri menjelang weekend ketika celana akan dicuci.
Kejadian seperti itu umumnya berulang lebih dari sekali. Mulai dari hal kecil seperti inil lah biasanya uang receh terkumpul dalam jumlah banyak. Dalam kondisi seperti itu, saya cenderung tidak menggubrisnya sehingga membiarkan uang logam tersebut tidak digunakan. Yak! Dalam konsisi seperti ini, saya telah melakukan Hoarding atas uang logam!.
Hoarding diartikan sebagai penimbunan (google translate). Pada aspek kehidupan seseorang, perilaku hoarding sering dikaitkan dengan kegiatan atau aktivitas atau perilaku mengumpulkan –atau lebih tepatnya menimbun- barang-barang yang sebenarnya tidak memiliki manfaat jika ditimbun. Ambil contoh barang-barang kesayangan yang enggan dibuang meski udah tidak terpakai dan tidak sesuai umur ataupun baju-baju yang tidak muat lagi namun masih dipaksakan disimpan dalam lemari. Pelaku hoarding seperti ini akan dihadapkan pada permasalahan penyimpanan barang-barang timbunan tersebut.
Perilaku Hoarding ini tentunya memiliki dampak tidak baik bagi perekonomian personal maupun secara umum. Dari sudut pandang personal, dengan tindakan hoarding, akan muncul kecenderungan untuk enggan menggunakan kembali uang receh tersebut dalam perputaran perekonomian. Jika dilakukan dalam jangka lama, potensi kegunaan uang tersebut akan semakin berkurang seiring menurunnya nilai mata uang sejalan dengan prinsip “The Future Value of Money”. Dari sisi perekonomian umum, pemerintah dalam hal ini Bank Sentral akan mengalami kesulitan likuiditas uang receh karena uang receh yang diproduksi tidak berputar dalam lalu lintas perekonomian. Jumlah uang receh yang dikeluarkan Bank Sentral akan cenderung tidak sama dengan jumlah uang receh yang digunakan dalam transaksi maupun kembali ke Bank Sentral melalui mekanisme menabung melalui bank komersial. Ketidaksamaan ini muncul sebagai akibat aksi penimbunan (hoarding) tersebut.
Hoarding dan Redenominasi
Kemunculan gagasan untuk redenominasi mata uang rupiah memang sudah menjadi perbincangan hangat kalangan pemerhati perekonomian. Jumlah nominal mata uang rupiah dipandang sudah tidak efisien lagi. Jika kita cermati, nilai mata uang yang masih dapat digunakan dalam transaksi adalah senilai Rp100,00. Nilai ini biasanya diwakili dengan uang logam warna kuning atau perak.
Adanya Redenominasi nilai mata uang rupiah diharapkan dapat membuat transaksi lebih mudah, pencatatan keuangan tidak memerlukan angka nol yang banyak dan meningkatkan daya tawar nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing. Tentunya kemanfaatan ini akan dapat diperoleh jika memenuhi prasyarat seperti kesiapan masyarakat atas kebijakan redenominasi, dan adanya pemahaman oleh masyarakat atas perbedaan redenominasi dengan sanering.
Hoarding dan redenominasi sama-sama menjadi isu penting dalam pengelolaan keuangan. Hoarding dapat berdampak mengurangi potensi kemampuan ekonomi dari uang tersebut seiting berjalannya waktu. Di sisi lain, adanya redenominasi dapat memunculkan kekhawatiran atas inflasi akibat pembulatan setelah diberlakukan redenominasi.

*Dalam Program Penghabisan Uang Logam*

Bacaan:
http://nasional.kontan.co.id/news/inflasi-menghantui-redenominasi

Senin, 27 Januari 2014

Kelas Ekonomi Menengah? Bagaimana Perannya Dalam Ekonomi Riil?

 Kelas Ekonomi Menengah secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai kelompok anggota masyarakat yang secara finasial sudah memiliki kemampuan lebih dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Beberapa ukuran digunakan untuk mengindentifikasi kelompok ini, sebagai contoh Bank Dunia mendefinisikan Kelompok Kelas Menengah sebagai “anyone making between US $10-50 per day” (siapapun yang memiliki pengeluaran sekitar 10-5- dolar amerika tiap harinya – atau sekitar Rp100.000-500.000). Mendasar dengan pengertian itu, pertama sekali patut dipertanyakan apakah kita sudah termasuk dalam golongan Kelas Menengah? Mari cek buku pengeluaran masing-masing.
Ilustrasi Pembagian Kelas Ekonomi
Sumber : economicpopulist.org
Besarnya potensi kemanfaatan dari jumlah pengeluaran minimal para kelompok ekonomi menengah ini akan memberikan manfaat bagi perekonomian lokal jika potensi ini dapat dikelola dengan baik. Meningkatnya jumlah penduduk kelas ekonomi menengah seiring peningkatan jumlah penduduk yang besar juga menjadi efek . pola konsumsi yang cukup besar ini dapat digunakan dalam mengurangi permasalahan ekonomi di masyarakat.
 Permasalahan ekonomi tidak jauh-jauh dari kemiskinan, pengangguran, dan distribusi pendapatan yang tidak merata. Lalu apakah sumbangsih seperti apa yang bisa diambil oleh kelompok Kelas Menengah ini dalam mengurangi permasalahan ekonomi tersebut?
Sebelumnya ubek-ubek mbah google terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana perilaku ekonomi dari si Kelas Menengah ini secara umum.
Pertama, sebagai kelompok yang sudah tidak lagi memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar yang primer, kelompok kelas menengah sudah meluaskan kebutuhannya pada kebutuhan sekunder dan tersier seperti hobi, fashion, dan jasa.
Kedua, sebagai kelompok yang ada di tengah-tengah, sebagian kelompok ini ditengarai belum memiliki kematangan dalam mengelola pengaluarannya. Pemenuhan kebutuhan hanya didasarkan pada keinginan –bukan kebutuhan-, mudah terpengaruh, lebih mementingkan gengsi dan citra –meski sebenarnya pendapatannya memang pas-pasan-. Namun sebagian yang lain, kelompok ini menghendaki produk yang memiliki kemampuan memenuhi kebutuhannya pada titik maksimal. Karenanya, mereka akan cenderung mencari perbandingan dan selektif dalam membeli barang tertentu. Tak jarang mereka menggunakan media sosial sebagai sarana dalam berbagi informasi barang tertentu yang menjadi kebutuhan kelompok ini.
Seperti disinggung di awal, kelompok ini memiliki potensi dalam mengurangi permasalahan ekonomi, dalam hal, pola konsumsinya diarahkan ke arah positif, sebagai berikut:
1.   Lebih mengutamakan konsumsi terhadap produksi lokal dibanding membeli barang impor. Kelompok ekonomi menengah dikenal memiliki minat tinggi atas barang impor yang dianggap memiliki kualitas paling baik dibanding produk lokal. Hal ini tentu akan meningkatkan impor atas barang-barang tersebut yang pada akhirnya malah akan membuat kita menjadi pasar bagi produk impor. Jelas hal ini, tidak baik bagi perekonomian
2.   Diversifikasi produk yang dikonsumsi. Sebagai kelompok yang ditengarai memiliki sifat ikut-ikutan dan fanatik terhadap suatu produk, kelompok ini sebenarnya akan dapat menyemarakkan pasar apabila mereka mendiversifikasikan produk-produk yang dikonsumsinya. Dengan berlaku demikian, akan tumbuh pasar-pasar baru yang akan mengurangi pengangguran.  
3.   Pola konsumsi tidak hanya didasarkan pada gengsi, tetapi juga didasarkan pada keinginan membantu perekonomian sektor riil. Sebagai contoh, dengan melihat tingkat gengsi, kira-kira kelompok kelas menengah akan memilih membeli cemilan di gerai junk food terkenal atau memilih ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan?. Dengan kacamata gengsi, tentulah kelompok menengah ini akan memilih membeli cemilan di gerai waralaba tadi, padahal dengan berlaku seperti itu, perputaran uang utamanya hanya akan mengalir pada pemilik modal (pemilik gerai junk food). Hal ini akan berbeda jika mereka memilih membeli cemilan di ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan tadi. Sayuran dan bahan jualan pecel tadi dibeli dari petani lokal. Secara tidak langsung, kelompok menengah akan membantu jalannya perekonomian di sektor riil.
Wis, maukah kita jadi kelas ekonomi menengah yang peduli pada perekonomian riil negara sendiri? Jadilah anggota kelas ekonomi menengah yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Bacaan: