Kelas
Ekonomi Menengah secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai kelompok anggota
masyarakat yang secara finasial sudah memiliki kemampuan lebih dalam memenuhi
kebutuhan dasarnya. Beberapa ukuran digunakan untuk mengindentifikasi kelompok
ini, sebagai contoh Bank Dunia mendefinisikan Kelompok Kelas Menengah sebagai “anyone making between US $10-50 per day” (siapapun yang memiliki
pengeluaran sekitar 10-5- dolar amerika tiap harinya – atau sekitar Rp100.000-500.000).
Mendasar dengan pengertian itu, pertama sekali patut dipertanyakan apakah kita
sudah termasuk dalam golongan Kelas Menengah? Mari cek buku pengeluaran
masing-masing.
![]() |
Ilustrasi Pembagian Kelas Ekonomi Sumber : economicpopulist.org |
Permasalahan ekonomi tidak jauh-jauh dari
kemiskinan, pengangguran, dan distribusi pendapatan yang tidak merata. Lalu apakah
sumbangsih seperti apa yang bisa diambil oleh kelompok Kelas Menengah ini dalam
mengurangi permasalahan ekonomi tersebut?
Sebelumnya ubek-ubek mbah google terlebih
dahulu untuk mengetahui bagaimana perilaku ekonomi dari si Kelas Menengah ini
secara umum.
Pertama, sebagai kelompok yang sudah tidak
lagi memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar yang primer, kelompok kelas menengah
sudah meluaskan kebutuhannya pada kebutuhan sekunder dan tersier seperti hobi,
fashion, dan jasa.
Kedua,
sebagai kelompok yang
ada di tengah-tengah, sebagian kelompok ini ditengarai belum memiliki
kematangan dalam mengelola pengaluarannya. Pemenuhan kebutuhan hanya didasarkan
pada keinginan –bukan kebutuhan-, mudah terpengaruh, lebih mementingkan gengsi
dan citra –meski sebenarnya pendapatannya memang pas-pasan-. Namun sebagian
yang lain, kelompok ini menghendaki produk yang memiliki kemampuan memenuhi
kebutuhannya pada titik maksimal. Karenanya, mereka akan cenderung mencari
perbandingan dan selektif dalam membeli barang tertentu. Tak jarang mereka menggunakan
media sosial sebagai sarana dalam berbagi informasi barang tertentu yang
menjadi kebutuhan kelompok ini.
Seperti disinggung di awal, kelompok ini
memiliki potensi dalam mengurangi permasalahan ekonomi, dalam hal, pola
konsumsinya diarahkan ke arah positif, sebagai berikut:
1.
Lebih
mengutamakan konsumsi terhadap produksi lokal dibanding membeli barang impor. Kelompok
ekonomi menengah dikenal memiliki minat tinggi atas barang impor yang dianggap memiliki
kualitas paling baik dibanding produk lokal. Hal ini tentu akan meningkatkan
impor atas barang-barang tersebut yang pada akhirnya malah akan membuat kita
menjadi pasar bagi produk impor. Jelas hal ini, tidak baik bagi perekonomian
2.
Diversifikasi
produk yang dikonsumsi. Sebagai kelompok yang ditengarai memiliki sifat
ikut-ikutan dan fanatik terhadap suatu produk, kelompok ini sebenarnya akan
dapat menyemarakkan pasar apabila mereka mendiversifikasikan produk-produk yang
dikonsumsinya. Dengan berlaku demikian, akan tumbuh pasar-pasar baru yang akan
mengurangi pengangguran.
3.
Pola
konsumsi tidak hanya didasarkan pada gengsi, tetapi juga didasarkan pada
keinginan membantu perekonomian sektor riil. Sebagai contoh, dengan melihat
tingkat gengsi, kira-kira kelompok kelas menengah akan memilih membeli cemilan
di gerai junk food terkenal atau
memilih ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan?. Dengan kacamata
gengsi, tentulah kelompok menengah ini akan memilih membeli cemilan di gerai
waralaba tadi, padahal dengan berlaku seperti itu, perputaran uang utamanya hanya
akan mengalir pada pemilik modal (pemilik gerai junk food). Hal ini akan berbeda jika mereka memilih membeli
cemilan di ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan tadi. Sayuran dan
bahan jualan pecel tadi dibeli dari petani lokal. Secara tidak langsung,
kelompok menengah akan membantu jalannya perekonomian di sektor riil.
Wis, maukah kita jadi kelas ekonomi menengah yang peduli
pada perekonomian riil negara sendiri? Jadilah anggota kelas ekonomi menengah
yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Bacaan:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar