Senin, 27 Januari 2014

Kelas Ekonomi Menengah? Bagaimana Perannya Dalam Ekonomi Riil?

 Kelas Ekonomi Menengah secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai kelompok anggota masyarakat yang secara finasial sudah memiliki kemampuan lebih dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Beberapa ukuran digunakan untuk mengindentifikasi kelompok ini, sebagai contoh Bank Dunia mendefinisikan Kelompok Kelas Menengah sebagai “anyone making between US $10-50 per day” (siapapun yang memiliki pengeluaran sekitar 10-5- dolar amerika tiap harinya – atau sekitar Rp100.000-500.000). Mendasar dengan pengertian itu, pertama sekali patut dipertanyakan apakah kita sudah termasuk dalam golongan Kelas Menengah? Mari cek buku pengeluaran masing-masing.
Ilustrasi Pembagian Kelas Ekonomi
Sumber : economicpopulist.org
Besarnya potensi kemanfaatan dari jumlah pengeluaran minimal para kelompok ekonomi menengah ini akan memberikan manfaat bagi perekonomian lokal jika potensi ini dapat dikelola dengan baik. Meningkatnya jumlah penduduk kelas ekonomi menengah seiring peningkatan jumlah penduduk yang besar juga menjadi efek . pola konsumsi yang cukup besar ini dapat digunakan dalam mengurangi permasalahan ekonomi di masyarakat.
 Permasalahan ekonomi tidak jauh-jauh dari kemiskinan, pengangguran, dan distribusi pendapatan yang tidak merata. Lalu apakah sumbangsih seperti apa yang bisa diambil oleh kelompok Kelas Menengah ini dalam mengurangi permasalahan ekonomi tersebut?
Sebelumnya ubek-ubek mbah google terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana perilaku ekonomi dari si Kelas Menengah ini secara umum.
Pertama, sebagai kelompok yang sudah tidak lagi memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar yang primer, kelompok kelas menengah sudah meluaskan kebutuhannya pada kebutuhan sekunder dan tersier seperti hobi, fashion, dan jasa.
Kedua, sebagai kelompok yang ada di tengah-tengah, sebagian kelompok ini ditengarai belum memiliki kematangan dalam mengelola pengaluarannya. Pemenuhan kebutuhan hanya didasarkan pada keinginan –bukan kebutuhan-, mudah terpengaruh, lebih mementingkan gengsi dan citra –meski sebenarnya pendapatannya memang pas-pasan-. Namun sebagian yang lain, kelompok ini menghendaki produk yang memiliki kemampuan memenuhi kebutuhannya pada titik maksimal. Karenanya, mereka akan cenderung mencari perbandingan dan selektif dalam membeli barang tertentu. Tak jarang mereka menggunakan media sosial sebagai sarana dalam berbagi informasi barang tertentu yang menjadi kebutuhan kelompok ini.
Seperti disinggung di awal, kelompok ini memiliki potensi dalam mengurangi permasalahan ekonomi, dalam hal, pola konsumsinya diarahkan ke arah positif, sebagai berikut:
1.   Lebih mengutamakan konsumsi terhadap produksi lokal dibanding membeli barang impor. Kelompok ekonomi menengah dikenal memiliki minat tinggi atas barang impor yang dianggap memiliki kualitas paling baik dibanding produk lokal. Hal ini tentu akan meningkatkan impor atas barang-barang tersebut yang pada akhirnya malah akan membuat kita menjadi pasar bagi produk impor. Jelas hal ini, tidak baik bagi perekonomian
2.   Diversifikasi produk yang dikonsumsi. Sebagai kelompok yang ditengarai memiliki sifat ikut-ikutan dan fanatik terhadap suatu produk, kelompok ini sebenarnya akan dapat menyemarakkan pasar apabila mereka mendiversifikasikan produk-produk yang dikonsumsinya. Dengan berlaku demikian, akan tumbuh pasar-pasar baru yang akan mengurangi pengangguran.  
3.   Pola konsumsi tidak hanya didasarkan pada gengsi, tetapi juga didasarkan pada keinginan membantu perekonomian sektor riil. Sebagai contoh, dengan melihat tingkat gengsi, kira-kira kelompok kelas menengah akan memilih membeli cemilan di gerai junk food terkenal atau memilih ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan?. Dengan kacamata gengsi, tentulah kelompok menengah ini akan memilih membeli cemilan di gerai waralaba tadi, padahal dengan berlaku seperti itu, perputaran uang utamanya hanya akan mengalir pada pemilik modal (pemilik gerai junk food). Hal ini akan berbeda jika mereka memilih membeli cemilan di ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan tadi. Sayuran dan bahan jualan pecel tadi dibeli dari petani lokal. Secara tidak langsung, kelompok menengah akan membantu jalannya perekonomian di sektor riil.
Wis, maukah kita jadi kelas ekonomi menengah yang peduli pada perekonomian riil negara sendiri? Jadilah anggota kelas ekonomi menengah yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Bacaan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar