Minggu, 16 Februari 2014

Kisah hidup Queeny Chang, putri taipan Tjong A Fie

Merupakan kisah kehidupan taipan asal tiongkok di Kota Medan. Hikmah singkat yang dapat saya petik adalah, sehebat apapun anda -mungkin akan dianggap bias-, wariskanlah keahlian yang anda miliki tersebut kepada orang lain, khususnya keluarga anda. :)


Rabu, 12 Februari 2014

Kakak-Adik, Lain Sifat, Beda Takdir

Judul Buku                       : Dua Saudara
Judul Asli                         : Brotherly Love
Penulis                             : Jhumpa Lahiri
Penerjemah                      : Anton WP
Penerbit                           : KATTA
Tahun Terbit                    : 2014
Jumlah Halaman               : 68 hlmn
ISBN                                : 978-979-1032-75-9

Foto sampul depan
         Dikisahkan dua bersaudara bernama Subash dan Udayan. Subash merupakan anak yang lebih tua dan Udayan, si adik.  Mereka memiliki sifat yang berbeda, Udayan, si kakak, memiliki sifat lebih penurut kepada kedua orang tuanya. Lain dengan si adik, Udayan, yang lebih tidak penurut dibanding si kakak yang tak pernah berselisih dengan Ibunya. Latar belakang cerita yang dibangun adalah daerah India pada tahun 1970-an pada masa Jawaharal Nehru.
Cerita diawali dengan kehidupan masa kecil Subash dan Udayan. Ketimpangan sosial di daerah India digambarkan melalui cerita kakak-beradik dengan lapangan golf. Mereka sering secara diam-diam keluar masuk ke dalam padan golf guna mengambil bola-bola golf sisa permainan kaum borjuis di India.
Ketimpangan sosial ini dikritisi si adik yang lebih vokal, Udayan. Udayan beranggapan bahwa India masih merupakan negara semikolonial Inggris, seolah-olah Inggris tidak pernah hengkang dari tanah India. Ketimpangan sosial ini digambarkan melalui kehidupan penghuni dalam kawasan lapangan golf yang jauh lebih mewah dan berbeda dibanding masyarakat Tollygunge, tempat kakak-beradik ini tinggal.
Cerita kemudian berkembang seiring pertambahan usia keduanya. Subash memilih melanjutkan studi ke Amerika sedangkan si adik, udayan memilih mengajar di sekolah teknik di daerahnya. Seiring perjalanan waktu, komunikasi kakak-adik ini hanya dijalin melalui surat.
Konflik mulai dimunculkan tatkala Udayan mengirimkan surat yang memberitahukan pernikahannya dengan seorang gadis bernama Gauri. Betapa terkejutnya Subash ketika mengetahui bahwa kisah cinta Udayan dan Gauri sudah dijalin bahkan sebelum Subash berangkat ke Amerika. Selanjutnya diketahui bahwa kedua orang tua mereka tidak begitu merestui pernikahan Udayan-Gauri. Selain karena menentang kebiasaan yaitu perjodohan orang tua, pernikahan Udayan-Gauri tersebut berarti melangkahi Subash, si kakak.  
Kemudian, Subash menerima telegram orang tuanya, isinya “Udayan terbunuh. Pulanglah kalau memungkinkan”.
Setelah pulang kembali ke kampung halamannya, Subash melihat sendiri kondisi yang nyata yang telah terjadi. Kondisi perpolitikan dan pemberontakan-pemberontakan serta kondisi keluarganya yang tidak harmonis –kedua orang tuanya yang tidak menyukai kakak iparnya Gauri.
Begitu terpukulnya keluarga atas kematian Udayan membuat kedua orang tuanya enggan menceritakan sebab-musabab kematian Udayan kepada Subash. Gauri pun masih belum dapat dimintai keterangan penyebab kematian suaminya tersebut hingga suatu kesempatan, Subash berhasil memperoleh penjelasan dari Gauri terkait kematian Udayan.
Pada waktu itu, polisi menggerebek rumah mereka, mencari Udayan. Udayan dicari terkait indikasi keterlibatannya pada pemberontakan-pemberontakan melawan pemerintah setempat. Awalnya mereka (Ayah mertua, Ibu mertua, dan Gauri) menolak memberikan keterangan namun akhirnya Udayan dapat ditemukan. Udayan diciduk polisi dan dibawa ke atas bukit. Dari bagian atas rumahnya, mereka dapat melihat bagaimana Udayan secara tragis dieksekusi.   
Kematian Udayan menjadi cerita pilu bagi semua anggota keluarga. Ayahnya tentunya sangat terpukul karena selaku pegawai pemerintah anaknya malah menjadi bagian dari pemberontak antipemerintah. Gauri pun dilanda pilu, karena Udayan belum sempat melihat buah cinta mereka lahir.
Penulis membagi cerita pendek ini terbagi dalam empat bab dengan alur cerita maju mudur. Alur maju ketika cerita masa kecil sampai dewasa dan alur mundur digunakan dalam penyampaian Gauri atas penyebab meninggalnya suaminya. Konflik cerita dibuat secara apik di setiap bagiannya. Apabila dibuat novel, mungkin konflik akan lebih berkembang mengingat bagian akhir cerita ditulis dengan mengambang dan memunculkan tanda tanya terkait, bagaimana kehidupan Subash dan Gauri selanjutnya?
Secara personal, saya memberi Delapan Bintang dari Sepuluh Bintang :D