Ibarat sebuah
teko, material yang keluar adalah sama seperti material yang ada di dalamnya. Sangat
tidak mungkin mengharap kopi keluar dari teko yang berisi teh. Begitu juga
manusia, apa yang terucapkan olehnya merupakan cerminan dari apa yang
sebenarnya aad dalam hati dan pikirannya. Kedalaman berpikir, daya nalar,
tingkat pengalaman akan mempengaruhi seseorang untuk berkata-kata.
Apa yang
terjadi jika ilmu kita tidak berubah dari waktu ke waktu. Bisa jadi belajar
belum menjadi kebutuhan utama kita.
Itu yang saya
rasakan. Perubahan waktu tidak berbanding lurus dengan tingkat kemajuan
pengetahuan. Ilmu yang ada di otak mandeg seiring perasaan nyaman terjebak
dalam Confort Zone. Jika ditanya
terhadap suatu permasalahan, jawabannya yang akan saya berikan tidak akan jauh
dengan jawaban yang saya berikan jika pertanyaan tersebut diberikan pada kurun
waktu sebelumnya. Bagaimana kemudian cara mengatasinya?
Seiring perjalanan
waktu, permasalahan-permasalahan memerlukan pemecahan yang kadang membutuhkan
solusi yang tidak konvensional, tidak melulu itu-itu saja, namun membutuhkan
pendekatan yang berbeda dari yang ada.
Hal ini
menuntut manusia untuk selalu berkembang, bagaimanapun keadaannya. Menyerap informasi
baru, menggunakan perspektif baru, menggali potensi baru yang pada akhirnya
akan memberikan ilmu yang terbarukan bagi si pembelajar.