Rabu, 23 Juli 2014

Ilmu yang Terbarukan

Ibarat sebuah teko, material yang keluar adalah sama seperti material yang ada di dalamnya. Sangat tidak mungkin mengharap kopi keluar dari teko yang berisi teh. Begitu juga manusia, apa yang terucapkan olehnya merupakan cerminan dari apa yang sebenarnya aad dalam hati dan pikirannya. Kedalaman berpikir, daya nalar, tingkat pengalaman akan mempengaruhi seseorang untuk berkata-kata.
Apa yang terjadi jika ilmu kita tidak berubah dari waktu ke waktu. Bisa jadi belajar belum menjadi kebutuhan utama kita.
Itu yang saya rasakan. Perubahan waktu tidak berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pengetahuan. Ilmu yang ada di otak mandeg seiring perasaan nyaman terjebak dalam Confort Zone. Jika ditanya terhadap suatu permasalahan, jawabannya yang akan saya berikan tidak akan jauh dengan jawaban yang saya berikan jika pertanyaan tersebut diberikan pada kurun waktu sebelumnya. Bagaimana kemudian cara mengatasinya?
Seiring perjalanan waktu, permasalahan-permasalahan memerlukan pemecahan yang kadang membutuhkan solusi yang tidak konvensional, tidak melulu itu-itu saja, namun membutuhkan pendekatan yang berbeda dari yang ada.

Hal ini menuntut manusia untuk selalu berkembang, bagaimanapun keadaannya. Menyerap informasi baru, menggunakan perspektif baru, menggali potensi baru yang pada akhirnya akan memberikan ilmu yang terbarukan bagi si pembelajar.