Setiap manusia
diciptakan unik, dengan begitu segala tindak tanduknya memanglah unik, berbeda
satu dengan yang lain. Setiap satu orang tidak memiliki perilaku yang sama
persis dengan orang di sampingnya, keluarga, maupun tetangganya.
Namun demikian,
ketidakmiripan ini tentu bukan berarti sulit mengumpulkan orang karena
ketidaksamaan perilaku tadi. Sifat manusia yang social membuat manusia
melakukan penyesuaian dengan manusia di sekililingnya. Perbedaan sifat tadi
berangsur-angsur luruh dan melebur dengan lingkungan sekitarnya. Kondisi seperti
ini pada akhirnya akan membuat kesamaan perilaku yang diterima secara umum yang
biasanya disebut kebiasaan, dan adat masyarakat.
Kebiasaan sosial
menuntut seseorang berperilaku yang tidak terlalu menyimpang dengan nilai-nilai
yang telah disepakati dan diterima secara komunal oleh publik. Kebiasaan ini
lambat laun juga mempengaruhi gaya hidup bersosial masyarakat. Seseorang akan
dianggap tidak lumrah manakala tidak bergaya hidup layaknya perilaku
teman-teman yang lain.
Manakala gaya
hidup sudah dikaitkan dengan kebiasaan orang lain, kecenderungannya adalah akan
muncul suatu biaya yang diperlukan seseorang untuk dapat dianggap gaul dan diterima
oleh lingkungannya. Menjadi diterima oleh lingkungan juga merupakan kebutuhan
manusia dalam hal eksistensi.
Di lingkungan
perokok, minimal seseorang perlu menyediakaan rokok. Kalau perlu menjadi
perokok aktif dibanding menjadi perokok pasif. Di lingkungan pembaca buku,
setiap orang minimal menyediakan buku baru atau info buku yang bisa dijadikan
bahan chit-chat dengan
teman-temannya. Manakala gaul itu diterjemahkan sebagai selalu hangout di warung kopi, tak pelak
pengeluaran bulanan juga harus menyediaan biaya ngopi disamping kebutuhan
primer makan dan minum.
Pada akhirnya,
silakan ditanyakan kepada diri sendiri, berapa harga gaya hidupmu?