Judul Buku : “This is America, Beibeh”
Jumlah halaman : 310
Penulis : Dian Nugraheni
Penerbit : PT Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit : Juli 2013
ISBN :
978-979-709-729-5
Harga Buku : Rp59.000,00
Sampul Depan |
Pada sampul
depan buku ini ditulis singkat deskripsi buku, “Perjuangan seorang perempuan asal Purworejo, untuk bertahan hidup di
nerei Paman Sam bersama kedua anaknya”. Pada sampul belakang buku ini
ditulis bahwa si Penulis adalah Sarjana Hukum di Universitas Gajah Mada Tahun
1994 dan saat ini tinggal di Virginia setelah mendapat Green Card dari negara Amerika Serikat.
Oke, ditulis
oleh orang keturunan Indonesia, yang tinggal di Amerika, menceritakan perjuangan
hidup si Penulis di Amerika, membuat saya memutuskan untuk membeli buku ini. Harapan
awalnya adalah akan memperoleh gambaran hidup di Amerika, bagaimana culture shock yang dihadapi si penulis
di sana, dan karena ada kata sakti “perjuangan”, saya meramalkan buku ini menyuguhkan
tulisan-tulisan yang dramatik.
Dan ternyata
saya salah. Haha. Secara tersurat dalam sambutan penulis, dinyatakan bahwa buku
ini merupakan catatan-catatan yang dibuatnya di situs jejaring sosial milik
Mark Zukerberg, Facebook. Tulisan-tulisannya
dibuat jenaka– padahal dugaan saya akan dramati- pada awal bagian dan sedikit
lebih serius di bagian tengah sampai akhir buku.
Tak kurang
dari 51 cerita yang dikelompokkan dalam 6 bahasan, meliputi: “GE Swalayan”, “Deli,
Kedai Sandwich”, “Orang Amerika, “Alam Amerika”, Budaya Amerika”, dan “Sekolah
Amerika”. Pada bagian-bagian awal buku kita akan lebih banyak disuguhkan
cerita-cerita lucu tentang sekelilingnya di tempat kerja. Di bagian menuju akhir
buku, penulis lebih banyak mencurahkan tulisan-tulisan menggunakan perasaan –karena
penulisnya perempuan kali ya- terkait pendidikan dan perkembangan kedua anak
perempuannya.
Pengalaman-pengalaman
hidup si penulis ditulis dengan gaya jenaka. Pada akhir cerita selalu
dibubuhkan catatan kaki yang menggambarkan kondisi perasaan atau kondisi nyata
yang dialami si penulis pada saat membuat “catatan hariannya” ini. Sebagai contoh:
“Tak ada listrik dan internet”, “Suhu minus derajad celcius”, dan “Hari ini
sejuk, jangan sampai kau merasa kehilangan. Nikmati saja semilir angin akhir
musim gugur ini”. Sisi positif orang Amerika juga diceritakan. Orang Amerika
yang ramah dan sopan, pendidikan anak yang gratis sampai 12 tahun.
Di sisi
lain, beberapa kali saya temukan ketikan yang tidak sempurna –gak banyak, tapi
ada-. Selain itu, cerita yang dibangun seolah-olah si Penulis adalah single parent dalam mengarungi hidup
bersama kedua putrinya di Amerika. Nama Jalu Jolang –diduga suami penulis-
hanya disebut pada kata sambutan. Cerita tentang si ayah -tanpa menyebut nama-
hanya diceritakan pada dua cerita, yaitu ketika si penulis menceritakan
kebiasaan merokok berdua di kamar mandi dan ketika penulis bersama kedua
putrinya harus menyusul si ayah karena mereka lupa membawa kunci apartemen
sewaktu keluar rumah. kondisi yang demikian, membuat kita tidak mendapat
gambaran yang sempurna sesuai ekspektasi saya. hehe
Buku ini ditulis
dengan ringan sehingga akan cocok sebagai “pengisi jeda waktu” atau menginstirahatkan
pikiran kita dari bacaan-bacaan yang berat.
Secara personal saya memberi Tujuh
bintang dari Sepuluh.
*semilir angin dingin akhir bulan
November* :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar