Minggu, 31 Agustus 2014

"Negeri Van Oranje", Bikin Nyengir dan Kaya dengan Detail


Judul Buku      : Negeri Van Oranje
Penulis            : Wahyudiningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit          : Bentang Pustaka
Tahun Terbit   : 2010 (Cetakan Ketujuh)
Jumlah Hlmn   : 478 Lembar

      Alkisah, bertemulah secara tidak sengaja 5 orang mahasiswa asal Indonesia di negeri Belanda akibat adanya gangguan pada kereta yang mereka naiki. Tersebutlah kelima mahasiwa tersebut meliputi: Irwansyah Iskandar (Banjar), Wicak Adi Gumelar (Wicak), Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri (Daus), Anandita Lintang Persada (Lintang), dan Garibaldi Utama Nugraha Atmaja (Geri).
      Kelima mahasiwa tersebut dengan kesibukan masing masing, Lintang di Leiden, Banjar di Rotterdam, Daus di Utrech, Wicak di Wageningen, dan Geri di Den Haag. Meski berlainan kota, Kelima sahabat tersebut tetap dapat terhubung melalui akses dunia maya berupa Yahoo Messenger (YM).
      Kisah kelima sahabat tersebut diceritakan dengan gaya jenaka namun tetap mengena. Detil-detil meliputi lokasi, sejarah suatu kota, hingga pola kehidupan mahasiswa disana diceritakan secara apik yang menunjukkan bahwa para penulis cukup riset atau mungkin cerita yang diangkat diilhami oleh pengalaman mereka sendiri. Hal ini membuat kemasan novel ini masih "membumi" dan masih rasional untuk disimak.
      Hal menarik bagi saya yang dikupas dalam novel ini antara lain:
  1. Akses internet yang supercepat di negara Belanda
  2. Sejarah berdirinya Universitas Leiden Belanda
  3. Budaya membaca dan menulis Jurnal bagi Mahasiswa
  4. Fasilitas Perpustakaan yang ada di Belanda
  5. Culture Shock berupa budaya membayar sendiri (tidak ditraktir) pada acara Ulang Tahun orang Belanda      
      Sebagai novel yang menggunakan mahasiwa paska sarjana sebagai tokoh utama, novel ini pada satu sisi menggambarkan berbagai suka duka kehidupan mahasiswa paskasarjana di Negara Belanda. Ada mahasiswa yang beruntung karena terlahir dari keluarga mampu, namun juga ada mahasiswa yang mampu melanjutkan kuliahnya dengan bermodalkan beasiswa.
      Konflik yang ditampilkan tidak jauh-jauh dari kehidupan mahasiswa: pergulatan atas biaya hidup dari dana beasiswa dan tentu saja konflik percintaan antara kelima sahabat menjadi gong pergolakan antar sahabat yang ditampilkan.  
      
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar