Kamis, 28 November 2013

"This is America, Beibeh!"

Judul Buku                    : “This is America, Beibeh”
Jumlah halaman           : 310
Penulis                          : Dian Nugraheni
Penerbit                        : PT Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit                 : Juli 2013
ISBN                             : 978-979-709-729-5
Harga Buku                  : Rp59.000,00

Sampul Depan
Pada sampul depan buku ini ditulis singkat deskripsi buku, “Perjuangan seorang perempuan asal Purworejo, untuk bertahan hidup di nerei Paman Sam bersama kedua anaknya”. Pada sampul belakang buku ini ditulis bahwa si Penulis adalah Sarjana Hukum di Universitas Gajah Mada Tahun 1994 dan saat ini tinggal di Virginia setelah mendapat Green Card dari negara Amerika Serikat.
Oke, ditulis oleh orang keturunan Indonesia, yang tinggal di Amerika, menceritakan perjuangan hidup si Penulis di Amerika, membuat saya memutuskan untuk membeli buku ini. Harapan awalnya adalah akan memperoleh gambaran hidup di Amerika, bagaimana culture shock yang dihadapi si penulis di sana, dan karena ada kata sakti “perjuangan”, saya meramalkan buku ini menyuguhkan tulisan-tulisan yang dramatik.
Dan ternyata saya salah. Haha. Secara tersurat dalam sambutan penulis, dinyatakan bahwa buku ini merupakan catatan-catatan yang dibuatnya di situs jejaring sosial milik Mark Zukerberg, Facebook. Tulisan-tulisannya dibuat jenaka– padahal dugaan saya akan dramati- pada awal bagian dan sedikit lebih serius di bagian tengah sampai akhir buku.
Tak kurang dari 51 cerita yang dikelompokkan dalam 6 bahasan, meliputi: “GE Swalayan”, “Deli, Kedai Sandwich”, “Orang Amerika, “Alam Amerika”, Budaya Amerika”, dan “Sekolah Amerika”. Pada bagian-bagian awal buku kita akan lebih banyak disuguhkan cerita-cerita lucu tentang sekelilingnya di tempat kerja. Di bagian menuju akhir buku, penulis lebih banyak mencurahkan tulisan-tulisan menggunakan perasaan –karena penulisnya perempuan kali ya- terkait pendidikan dan perkembangan kedua anak perempuannya.
Pengalaman-pengalaman hidup si penulis ditulis dengan gaya jenaka. Pada akhir cerita selalu dibubuhkan catatan kaki yang menggambarkan kondisi perasaan atau kondisi nyata yang dialami si penulis pada saat membuat “catatan hariannya” ini. Sebagai contoh: “Tak ada listrik dan internet”, “Suhu minus derajad celcius”, dan “Hari ini sejuk, jangan sampai kau merasa kehilangan. Nikmati saja semilir angin akhir musim gugur ini”. Sisi positif orang Amerika juga diceritakan. Orang Amerika yang ramah dan sopan, pendidikan anak yang gratis sampai 12 tahun.
Di sisi lain, beberapa kali saya temukan ketikan yang tidak sempurna –gak banyak, tapi ada-. Selain itu, cerita yang dibangun seolah-olah si Penulis adalah single parent dalam mengarungi hidup bersama kedua putrinya di Amerika. Nama Jalu Jolang –diduga suami penulis- hanya disebut pada kata sambutan. Cerita tentang si ayah -tanpa menyebut nama- hanya diceritakan pada dua cerita, yaitu ketika si penulis menceritakan kebiasaan merokok berdua di kamar mandi dan ketika penulis bersama kedua putrinya harus menyusul si ayah karena mereka lupa membawa kunci apartemen sewaktu keluar rumah. kondisi yang demikian, membuat kita tidak mendapat gambaran yang sempurna sesuai ekspektasi saya. hehe
Buku ini ditulis dengan ringan sehingga akan cocok sebagai “pengisi jeda waktu” atau menginstirahatkan pikiran kita dari bacaan-bacaan yang berat.
Secara personal saya memberi Tujuh bintang dari Sepuluh.

*semilir angin dingin akhir bulan November* :p

Sabtu, 16 November 2013

Ketika Anda Disetir oleh Bukan Diri Anda

"Anda adalah apa yang anda makan", begitu kata pemerhati makanan.
"Anda adalah apa yang anda baca", begitu kata pecinta buku.
"Anda adalah seperti apa teman-teman dekat anda", begitu kata teman yang pernah baca hadist.

Ketiga ungkapan di atas mungkin sering kita dengar. Bagaimana kita sebagai manusia begitu dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal di sekitar kita. ketika kita bisa menyeleksi objek-objek eksternal (makanan, buku, dan teman) yang baik, tentunya akan membaikkan diri kita. 

Karena kita akan disetir oleh objek-objek eksternal, mari cari hal positif di sekitar kita !

Tambatkan idemu

Aha !”, tetiba suatu ide terbersit dalam pikiran. Sekelebat ide tersebut kemudian berkembang menjadi kerangka kasar, entah itu ide tulisan, ide terkait aktivitas maupun hal lain yang kiranya akan menarik dalam pikiran.
Namun ide itu kemudian sirna tanpa berkembang dan tereksekusi. Ya karena tidak teringat lagi gugur dalam perjalanan waktu. Hakjleb memang, ide yang bagus harus hilang tanpa dikembangkan dan saya sudah mengalaminya beberapa kali.
Ada benarnya ungkapan, “Ilmu (termasuk didalamnya ide) itu ibarat Kijang, jika tak engkau tambatkan maka ia akan lari”. Tambatan ilmu adalah catatan dan dengan mencatat kita seolah-olah menambatkan agar si Kijang –ilmu- ini tak lari, minimal jejaknya masih bisa terbaca.
Selain masalah catat-mencatat ide ini, permasalahan akan muncul lagi dalam masalah media mencatat. Beberapa kali saya mencatat ide pada kertas bekas, atau kertas tidak terpakai atau saya ketikkan pada file yang saya tahu akan tidak akan lihat lagi di kemudian hari. Mungkin alangkah lebih baik jika menyediakan buku khusus untuk menambung si ide tadi sehingga  jikalau suatu saat sedang butuh ide maka dengan mudah dapat digali dengan membuka buku ide tersebut.
Ide menjadi penting karena tidak mudah memperoleh ide yang bagus. Beberapa orang melakukan berbagai cara untuk memperoleh ide seperti dengan membaca banyak buku, sering berpegian ke tempat baru, melakukan perjalanan sendiri atau bahkan dengan merenung. Ide juga bersifat berkembang, idenya kecil namun dia akan beranak pinak dengan menjadi ide-ide lain jika dipicu. Ibarat deretan kartu domino, hanya diperlukan satu kartu yang dipicu saja untuk dapat menggerakkan seluruh kartu domino hingga kartu terakhir.  
Jadi kalo ada ide, segera eksekusi saja !


Kamis, 07 November 2013

"Dijajah english"

Bahasa inggris menjadi bahasa dunia ketika mayoritas orang di dunia mampu berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Masyarakat dari balahan bumi manapun mempelajari bahasa ini guna sebagai bahasa kedua selain bahasa ibu masing-masing. Dengan keberadaan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional, kita bisa berkomunikasi dengan orang Prancis atau Swedia dengan tidak menggunakan Bahasa Prancis atau Bahasa Swedia, namun menggunakan Bahasa Inggris. Dan mereka mengerti itu.

Urgensi mempelajari Bahasa Inggris acapkali membuat kita semua berupaya untuk menguasai Bahasa Inggris ini. Upaya pembelajaran dilakukan melalui berbagai cara, seperti: mengikuti kursus, belajar autodidak melalui lagu, novel, koran berbahasa inggris, mencari teman pena berbahasa inggris, sampai dengan membentuk komunitas berbahasa inggris, dan masih banyak cara lainnya.

Upaya-upaya pengayaan bahasa tersebut tidak salah, bahkan akan sangat bagus bagi personalitas seseorang. Mempelajari bahasa asing, tentunya akan membuat kita mempelajari sisi lain dunia. Dengan mempelajari salah satu bagian dari budaya lain yaitu bahasa, diharapkan kita akan smakin arif dan bijaksana sehingga akan sadar posisi terbaik dari dirinya.

Lalu apa yang salah? 

Di sisi lain dari upaya pembelajaran bahasa asing ini, muncul ancaman gagap bahasa yang justru merusak bahasa itu sendiri. Gagap bahasa ini cukup tercermin dari perilaku mencampur-adukkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi, baik verbal maupun lisan. Tujuan tindakan pencampuran bahasa ini harus dikembalikan kepada pelakunya masing-masing. Ada yang memang ingin terlihat keren, ada yang belum menemukan padanan kata yang pas dalam Bahasa Indonesia atau karena alasan lain.  

Sifat Bahasa Indonesia yang terbuka, membuat banyak kosakata dari bahasa asing yang dapat disesuaikan sehingga menjadi kelompok kata serapan dalam Bahasa Indonesia. Untuk itulah, ada Kamus Serapan bahasa Indonesia.

Lalu, sejauh mana kita "dijajah" english ?

Saya menggunakan istilah "dijajah", karena para pelaku pencampuran bahasa ini lebih meninggikan bahasa asingnya dibanding Bahasa Indonesia, meskipun lawan bicaranya adalah orang Indonesia tulen. Dalam kesehariannya, pelaku seperti ini akan lebih sering menggunakan "bahasa gado-gado" dalam percakapannya.

Nah, Hayo, dalam percakapan sehari-hari, seberapa sering kita menggunakan "bahasa gado-gado"?
Berikut ini daftar kata-kata gado-gado yang mungkin akan ditemui:
  1. "Well class, kita akan lanjut pada bahasan berikutnya", kata seorang Dosen MK Manajemen Operasional kepada para mahasiswanya 
  2. "How could you say that?", ucapan seseorang yang heran dengan tanggapan temannya yang di luar ekspektasinya.
  3. "As you know, saya ini pekerja keras", cerita artis yang ingin terkenal.
Ada yang bisa menambahkan? :)