Sabtu, 16 November 2013

Tambatkan idemu

Aha !”, tetiba suatu ide terbersit dalam pikiran. Sekelebat ide tersebut kemudian berkembang menjadi kerangka kasar, entah itu ide tulisan, ide terkait aktivitas maupun hal lain yang kiranya akan menarik dalam pikiran.
Namun ide itu kemudian sirna tanpa berkembang dan tereksekusi. Ya karena tidak teringat lagi gugur dalam perjalanan waktu. Hakjleb memang, ide yang bagus harus hilang tanpa dikembangkan dan saya sudah mengalaminya beberapa kali.
Ada benarnya ungkapan, “Ilmu (termasuk didalamnya ide) itu ibarat Kijang, jika tak engkau tambatkan maka ia akan lari”. Tambatan ilmu adalah catatan dan dengan mencatat kita seolah-olah menambatkan agar si Kijang –ilmu- ini tak lari, minimal jejaknya masih bisa terbaca.
Selain masalah catat-mencatat ide ini, permasalahan akan muncul lagi dalam masalah media mencatat. Beberapa kali saya mencatat ide pada kertas bekas, atau kertas tidak terpakai atau saya ketikkan pada file yang saya tahu akan tidak akan lihat lagi di kemudian hari. Mungkin alangkah lebih baik jika menyediakan buku khusus untuk menambung si ide tadi sehingga  jikalau suatu saat sedang butuh ide maka dengan mudah dapat digali dengan membuka buku ide tersebut.
Ide menjadi penting karena tidak mudah memperoleh ide yang bagus. Beberapa orang melakukan berbagai cara untuk memperoleh ide seperti dengan membaca banyak buku, sering berpegian ke tempat baru, melakukan perjalanan sendiri atau bahkan dengan merenung. Ide juga bersifat berkembang, idenya kecil namun dia akan beranak pinak dengan menjadi ide-ide lain jika dipicu. Ibarat deretan kartu domino, hanya diperlukan satu kartu yang dipicu saja untuk dapat menggerakkan seluruh kartu domino hingga kartu terakhir.  
Jadi kalo ada ide, segera eksekusi saja !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar