“Aha !”, tetiba
suatu ide terbersit dalam pikiran. Sekelebat ide tersebut kemudian berkembang
menjadi kerangka kasar, entah itu ide
tulisan, ide terkait aktivitas maupun hal lain yang kiranya akan menarik dalam
pikiran.
Namun ide itu kemudian sirna tanpa berkembang dan
tereksekusi. Ya karena tidak teringat
lagi gugur dalam perjalanan waktu. Hakjleb
memang, ide yang bagus harus hilang tanpa dikembangkan dan saya sudah
mengalaminya beberapa kali.
Ada benarnya ungkapan, “Ilmu
(termasuk didalamnya ide) itu ibarat Kijang, jika tak engkau tambatkan maka ia
akan lari”. Tambatan ilmu adalah catatan dan dengan mencatat kita
seolah-olah menambatkan agar si Kijang –ilmu- ini tak lari, minimal jejaknya
masih bisa terbaca.
Selain masalah catat-mencatat ide ini, permasalahan akan
muncul lagi dalam masalah media mencatat. Beberapa kali saya mencatat ide pada
kertas bekas, atau kertas tidak terpakai atau saya ketikkan pada file yang saya tahu akan tidak akan lihat lagi di kemudian hari. Mungkin alangkah
lebih baik jika menyediakan buku khusus untuk menambung si ide tadi sehingga jikalau suatu saat sedang butuh ide maka
dengan mudah dapat digali dengan membuka buku ide tersebut.
Ide menjadi penting karena tidak mudah memperoleh ide yang
bagus. Beberapa orang melakukan berbagai cara untuk memperoleh ide seperti
dengan membaca banyak buku, sering berpegian ke tempat baru, melakukan
perjalanan sendiri atau bahkan dengan merenung. Ide juga bersifat berkembang,
idenya kecil namun dia akan beranak pinak dengan menjadi ide-ide lain jika
dipicu. Ibarat deretan kartu domino, hanya diperlukan satu kartu yang dipicu
saja untuk dapat menggerakkan seluruh kartu domino hingga kartu terakhir.
Jadi kalo ada ide, segera eksekusi saja !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar