Kamis, 08 Februari 2018

Penghakiman sadis yang tidak etis

Jaman emang udah mulai edan, sekat-sekat etika pun kadang sudah tidak diperhatikan. Sikap tepo seliro dan budaya ala ketimuran pun kadang dikesampingkan demi kepuasan ego pribadi seseorang, khususnya dalam berhubungan dengan orang lain. Masalah-masalah dengan orang lain kadang muncul dimana hal tersebut sebenarnya jarang ditemukan di jaman sebelumnya. Salah satunya adalah tindakan pengakiman sadis terhadap seseorang.
Penghakiman sadis ini umumnya diwujudkan dalam bentuk penyebaran sisi negatif seseorang. Pembongkaran sisi negatif ini kadang dianggap aib yang memalukan bagi si objek penghakiman atau masih berupa praduga berujung fitnah yang akan merugikan si objek juga.
Sikap seperti ini mudah dijumpai di jaman sekarang ini. Tayangan di televisi pun memfasilitasi kegiatan penghakiman ini dengan cara mempertotonkan kejelekan publik figur dengan berbagai jenis analisa. Pendekatan psikologi yang seharusnya secara etis digunakan secara bijak sebagai ilmu untuk kemanusiaan, tapi oleh segelintir orang digunakan untuk mengorek kejelekan orang lain. Hal ini akan semakin besar pengaruhnya manakala penghakiman tersebut dilakukan di muka umum yang disaksikan oleh orang-orang yang tidak berkepentingan namun akhirnya tertarik untuk mengorek informasi yang belum tentu benar tersebut.
Judgement seperti “Si anu begini begitu punya sifat ini sifat itu berkecenderungan ini dan itu”, “dilihat dari microexpression si anu begini begitu”, “kayaknya si anu begini deh karena gesture tubuhnya begitu” adalah contoh ungkapan-ungkapan yang dilontarkan oleh oknum-oknum yang suka melakukan penghakiman ala psikologi. Penghakiman ini begitu renyah manakala cerita yang disampaikan memiliki kecenderungan beririsan dengan gossip apalagi terkait orang terkenal, sungguh sangat nikmat. Tak ayal kadang analisis ala psikologi ini digunakan dalam narasi sebuah tayangan infotainment.
Perilaku ini jelas merugikan orang. Beberapa contoh publik figur pun kadang menggunakan rasa ketidaksukaan mereka terhadap perilaku oknum tersebut dengan jalur hukum, dengan paying pasal pencemaran nama baik. Entah sudah benar atau masih remang-remang, perilaku judgement oknum-oknum tersebut kiranya perlu dibenturkan dengan etis-tidak etisnya ilmu mereka digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.
Judgement kiranya dapat digunakan dalam takaran etis yang bermanfaat. Dalam keperluan seperti assestment, penjaringan/rekruitmen tenaga kerja, bukti persidangan atau keperluan lainnya. Sebaliknya, judgement seperti di atas kurang pas digunakan secara ala kadarnya dalam menyebarkan aib atau bahan gosip atau bahan fitnah. Dikatakan ala kadarnya manakala analisis yang digunakan hanya digunakan sebagai pemanis pada narasi yang tidak mendalam. Apalagi jika disebar secara umum di muka umum tanpa dapat dipertanggungjawabkan.

Stop judging without proofing!

Minggu, 07 Januari 2018

Hilangnya Kenyamanan Area Publik

Tahun 2018 dimulai dengan gegap gempita persiapan pemilihan kepala daerah serentak. Ada beberapa kabupaten/kota beserta provinsi yang menghelat pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Siklus demokrasi ini tak pelak menyedot perhatian masyarakat luas baik yang serius maupun yang apatis terhadap proses penentuan pemimpin daerah tersebut.
Hal yang menjadi umum ditemukan pada masa Pilkada adalah banyak munculnya muka-muka calon pemimpin yang bertengger di area public, entah pinggir jalan, tertempel di pohon atau tiang listrik atau yang lebih elit, muncul pada baliho-baliho besar sudut kota. Upaya promosi ini tak pelak merupakan suatu upaya pengenalan diri kepada masyarakat terhadap keberanian si calon pemimpin. Dan tentunya harapan mereka adalah agar masyarakat luas mengenali dan kemudian mencoblos muka mereka pada saat di bilik suara nantinya.
Permasalahan muncul tatkala upaya sosialisasi kepada masyarakat ini dilakukan dengan cara yang kurang elegan. Pemasangan baliho maupun foto calon yang massif di area publik umumnya mengotori area publik itu sendiri. Pohon-pohon yang menyejukkan umumnya juga menjadi korban dari pemasangan foto-foto calon pemimpin ini.
Di sisi lain, upaya promosi ini juga masih perlu ditinjau keefektivitasannya dalam memberikan pilihan calon pemimpin bagi masyarakat. Calon pemimpin yang paling banyak pasang baliho tidak menjamin akan menang dan memberikan pilihan terbaik bagi masyarakatnya.
Lalu bagaimana solusi yang lebih baik yang dapat dipilih?
1.    Masyarakat memang diharapkan tidak apatis terhadap politik local, sehingga masyarakat sendirilah yang secara aktif mencari tahu alternative pilihan-pilihan calon pemimpin yang akan dipilihnya.
2.    Perlu ada pengaturan yang ketat dalam pelaksanaan promosi/pengenalan diri bagi para calon pemimpin ini. Contohnya: dilarang pasang baliho dengan cara dipaku di pohon, memasang foto calon di tempat-tempat netral seperti rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, kantor instansi dan tempat-tempat netral lainnya. Upanya pengaturan ini tentunya harus dipatuhi bersama dengan pengawasan yang ketat dari aparat dan masyarakat.
3.    Perlu adanya difasilitasi dengan kegiatan-kegiatan pengenalan seperti jumpa calon pemimpin, diskusi di tempat umum, pengenalan calon pemimpin dengan media ramah lingkungan dan dengan pendekatan-pendekatan lainnya yang lebih bertanggung jawab.

Beberapa hal di atas perlu dipikirkan mengingat area publik merupakan area milik bersama yang diharapkan dapat dinikmati bersama, memberikan kesan keindahan dan kenyamanan bagi penghuni daerah tersebut. Pohon-pohon yang  hijau bersih tentu akan lebih menyenangkan dan enak dilihat dibandingkan dengan pohon-pohon yang ada dihuni oleh foto-foto orang yang entah akan memimpin kita atau tidak beberapa waktu ke depan.

Silaunya Sorot Lampu Kota Besar

Susah bener nyari tenaga buruh di kampung. Kalaupun ada, yang tersedia adalah tenaga buruh yang sudah tua dengan kemampuan yang tidak optimal lagi. Kalau tidak ya adanya adalah pekerja yang seadanya dengan kemapuan yang seadanya juga. Ya, desa saat ini memang kehilangan pamornya. Banyak tenaga-tenaga muda umumnya enggan untuk bekerja di tanah kelahiran mereka sendiri. Lahan pekerjaan yang tersedia di kampong yang hanya berkutat pada pertanian dan pekerjaan kasar umumnya kurang menarik bagi generasi sekarang. Seiring menurunkan ketersediaan tenaga kerja, kilau kehidupan ekonomi di desa pun mulai temaram.
Sedangkan di sudut yang lain, kota menjadi daya tarik khususnya bagi penduduk desa. Kota memiliki segala hal yang dianggap menarik. Iming-iming peluang kerja yang lebih banyak serta dengan segala hingar bingarnya membuat penduduk desa tutup mata atas segala risiko yang mungkin akan muncul manakala bertransmigrasi ke kota. Tuntutan hidup memang membuat pemuda-pemuda desa memilih bekerja di kota dibandingkan dengan mencari penghidupan di desanya.
Silaunya sorot lampu kota besar ini bukan tanpa masalah. Perpindahan penduduk desa acapkali menyebabkan permasalahan baru seiring perkembangan kota. Pemukiman kumuh, peningkatan kejahatan, rendahnya kualitas hidup, dan permasalahan kependudukan lainnya biasanya dikaitkan dengan adanya perpindahan masyarakat desa yang mengadu nasib ke kota ini. Permasalahan tersebut mungkin dianggap sebagai salah satu konsekuensi dari perkembangan kota.

Permasalahan kekurangan sumber daya manusia di pedesaan ini memang perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Mengapa demikian? Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat seharusnya tidak hanya ditumpukan pada gerak ekonomi di perkotaan. Apalagi jika ingin mengaku sebagai Negara agraris, maka sektor pertanian –yang membutuhkan sumber daya manusa yang mumpuni- juga perlu diperhatikan. Padahal makin lama makin banyak dibutuhkan sumber-sumber pangan yang hulunya adalah pertanian di pedesaan. Iklim ekonomi yang baik perlu ditumbuhkan agar desa juga memiliki sinar-sinar penghidupan seperti sinar lampu yang dapat menarik laron-laron di sekitarnya. 

Kamis, 01 Juni 2017

Kehadiran Pemerintah Dalam Peredaran Barang Penting Konsumsi

Kebutuhan manusia khususnya dalam barang konsumsi pada masa kini umumnya hanya dapat dipenuhi dari orang lain. Hal ini terjadi karena ia tidak dapat menjadi produsen atas barang yang dikonsumsinya tersebut. Keterbatasan kepemilikan sumber daya berupa lahan menyebabkan sebagian orang menggantungkan pemenuhan kebutuhannya kepada pihak lain pemilik lahan yang umumnya disebut petani. Dalam interaksi kedua belah pihak ini umumnya akan terjadi jual-beli atau tukar-menukar barang satu sama lain. Dalam skala yang lebih luas, apabila interaksi ini difasilitasi bersama, akan muncul pasar.
Dalam masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan secara komunal, transaksi pemenuhan kebutuhan umumnya akan melibatkan masyarakat di daerah lain yang lebih mampu memproduksi barang yang dibutuhkan. Sebagai contoh, daerah yang kurang subur akan membutuhkan bantuan daerah yang lebih subur untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok semisal padi dan barang lain. Daerah yang subur akan berusaha menjual barang produksinya ke daerah yang kurang subur karena banyak peminat dan laku. Usuha menjual ini akan mengakibatkan muncul kebutuhan baru terhadap sarana transportasi.
Dalam kondisi sempurna, interaksi dan pemenuhan kebutuhan antara produsen dan konsumen tidak mengalami hambatan. Konsumen memperoleh barang yang dibutuhkannya dan produsen dapat menjual barang produksinya ke daerah yang membutuhkan. Namun dalam kenyataannya pasar umumnya tidak berjalan seperti itu. Produsen tidak mempunyai pengetahuan yang luas terhadap kebutuhan barang yang diproduksinya. Selain itu produsen juga enggan mengeluarkan biaya transportasi untuk mengangkut barangnya ke tempat konsumen akhir tersebut. Dalam kondisi terseperti ini muncul ruang yang pada akhirnya akan memunculkan peran lain dalam pola interaksi tersebut. Peran ini menjembatani antara produsen dan konsumen. Tentunya mereka akan memperoleh keuntungan dari selisih harga antara harga pembelian dari produsen dengan harga penjualan ke konsumen.
Permasalahan muncul manakala perantara ini mengambil peran yang sangat dominan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Dan lebih parah lagi apabila mereka melakukan praktik-praktik tak baik seperti penimbunan, monopoli, dan permainan harga yang berakibat merugikan konsumen akhir dan produsen tersebut namun menguntungkan bagi para perantara ini.
Sebagai gambaran, pada waktu-waktu seperti menjelang bulan puasa atau lebaran harga kebutuhan pokok umumnya akan mengalami kenaikan drastis. Barang-barang seperti beras, gula, bawang merah, bawang putih, menjadi langka padahal kebutuhan sedang mengalami kenaikan. Kenaikan yang serempak atas barang kebutuhan pokok ini jelas akan merugikan konsumen akhir. Dengan jumlah uang yang sama, mereka hanya mendapatkan lebih sedikit barang yang akhirnya mengurangi jumlah konsumsinya terhadap barang tersebut. Pada skala yang lebih luas, kenaikan harga yang serempak ini akan memunculkan permasalahan penurunan nilai uang yang umumnya dikenal dengan sebutan inflasi.
Permasalahan seperti di atas menunjukkan sulitnya dicapai kesejahteraan bersama manakala pasar dibiarkan berjalan sendiri. Konsumen dan produsen dibiarkan mencari titik keseimbangan sendiri atas transaksi yang dilakukannya yang pada kenyataannya telah banyak dipengaruhi oleh peran perantara tersebut. Keuntungan terbesar hanya dinikmati oleh makelar/perantara skala besar sedangkan produk  petani dihargai rendah padahal konsumen akhir membeli barang dengan harga tinggi. Untuk mengurangi dan mengendalikan harga tersebut, peran pemeritah mulai dianggap penting.
Hal yang dapat diambil oleh pemerintah adalah dengan meningkatkan peran sebagai regulator dalam lalu lintas distribusi barang. Peran ini penting mengingat dalam kenyataan, kesejahteraan masyarakat sulit dipenuhi manakala harga dan ketersediaan bahan pokok diserahkan kepada pasar secara murni. Pewujudan peran regulator ini berupa maksimalisasi peran “tangan-tangan pemerintah” seperti Bulog, TPID dalam memantau dan mengendalikan gejolak harga pada hari-hari tertentu.
Peran lain yang dapat diupayakan antara lain mendukung sisi produksi barang kebutuhan yang penting dan dibutuhkan masyarakat. Pemerintah dapat memberikan pelatihan dan mengontrol produksi bahan pangan kepada para petani kecil maupun menengah sehingga rantai pasok komoditas tersebut dapat terjaga dan petani kecil dan menengah dapat memperoleh keuntungan yang wajar atas bahan pangan yang diproduksinya.

Pada akhirnya, pemerintah memang dibutuhkan masyarakat dalam mengendalikan ketersediaan barang konsumsi bagi masyarakat. Melalui perannya, diharapkan pemerintah dapat meningkatkan kesejahteraan rakyatnya melalui penyediaan bahan pangan dan pengendalian inflasi atas komoditas pokok pangan. Solusi-solusi penyediaan barang konsumsi yang berjangka panjang diharapkan dapat ditempuh guna memberikan kemanfaatan bagi seluas-luas masyarakat Indonesia, dibandingkan solusi jangka pendek seperti impor barang dari negara lain.

Sabtu, 12 September 2015

Berapa Biaya Gaya Hidupmu?

Setiap manusia diciptakan unik, dengan begitu segala tindak tanduknya memanglah unik, berbeda satu dengan yang lain. Setiap satu orang tidak memiliki perilaku yang sama persis dengan orang di sampingnya, keluarga, maupun tetangganya.
Namun demikian, ketidakmiripan ini tentu bukan berarti sulit mengumpulkan orang karena ketidaksamaan perilaku tadi. Sifat manusia yang social membuat manusia melakukan penyesuaian dengan manusia di sekililingnya. Perbedaan sifat tadi berangsur-angsur luruh dan melebur dengan lingkungan sekitarnya. Kondisi seperti ini pada akhirnya akan membuat kesamaan perilaku yang diterima secara umum yang biasanya disebut kebiasaan, dan adat masyarakat.
Kebiasaan sosial menuntut seseorang berperilaku yang tidak terlalu menyimpang dengan nilai-nilai yang telah disepakati dan diterima secara komunal oleh publik. Kebiasaan ini lambat laun juga mempengaruhi gaya hidup bersosial masyarakat. Seseorang akan dianggap tidak lumrah manakala tidak bergaya hidup layaknya perilaku teman-teman yang lain.  
Manakala gaya hidup sudah dikaitkan dengan kebiasaan orang lain, kecenderungannya adalah akan muncul suatu biaya yang diperlukan seseorang untuk dapat dianggap gaul dan diterima oleh lingkungannya. Menjadi diterima oleh lingkungan juga merupakan kebutuhan manusia dalam hal eksistensi.
Di lingkungan perokok, minimal seseorang perlu menyediakaan rokok. Kalau perlu menjadi perokok aktif dibanding menjadi perokok pasif. Di lingkungan pembaca buku, setiap orang minimal menyediakan buku baru atau info buku yang bisa dijadikan bahan chit-chat dengan teman-temannya. Manakala gaul itu diterjemahkan sebagai selalu hangout di warung kopi, tak pelak pengeluaran bulanan juga harus menyediaan biaya ngopi disamping kebutuhan primer makan dan minum.

Pada akhirnya, silakan ditanyakan kepada diri sendiri, berapa harga gaya hidupmu?

Minggu, 31 Agustus 2014

"Negeri Van Oranje", Bikin Nyengir dan Kaya dengan Detail


Judul Buku      : Negeri Van Oranje
Penulis            : Wahyudiningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit          : Bentang Pustaka
Tahun Terbit   : 2010 (Cetakan Ketujuh)
Jumlah Hlmn   : 478 Lembar

      Alkisah, bertemulah secara tidak sengaja 5 orang mahasiswa asal Indonesia di negeri Belanda akibat adanya gangguan pada kereta yang mereka naiki. Tersebutlah kelima mahasiwa tersebut meliputi: Irwansyah Iskandar (Banjar), Wicak Adi Gumelar (Wicak), Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri (Daus), Anandita Lintang Persada (Lintang), dan Garibaldi Utama Nugraha Atmaja (Geri).
      Kelima mahasiwa tersebut dengan kesibukan masing masing, Lintang di Leiden, Banjar di Rotterdam, Daus di Utrech, Wicak di Wageningen, dan Geri di Den Haag. Meski berlainan kota, Kelima sahabat tersebut tetap dapat terhubung melalui akses dunia maya berupa Yahoo Messenger (YM).
      Kisah kelima sahabat tersebut diceritakan dengan gaya jenaka namun tetap mengena. Detil-detil meliputi lokasi, sejarah suatu kota, hingga pola kehidupan mahasiswa disana diceritakan secara apik yang menunjukkan bahwa para penulis cukup riset atau mungkin cerita yang diangkat diilhami oleh pengalaman mereka sendiri. Hal ini membuat kemasan novel ini masih "membumi" dan masih rasional untuk disimak.
      Hal menarik bagi saya yang dikupas dalam novel ini antara lain:
  1. Akses internet yang supercepat di negara Belanda
  2. Sejarah berdirinya Universitas Leiden Belanda
  3. Budaya membaca dan menulis Jurnal bagi Mahasiswa
  4. Fasilitas Perpustakaan yang ada di Belanda
  5. Culture Shock berupa budaya membayar sendiri (tidak ditraktir) pada acara Ulang Tahun orang Belanda      
      Sebagai novel yang menggunakan mahasiwa paska sarjana sebagai tokoh utama, novel ini pada satu sisi menggambarkan berbagai suka duka kehidupan mahasiswa paskasarjana di Negara Belanda. Ada mahasiswa yang beruntung karena terlahir dari keluarga mampu, namun juga ada mahasiswa yang mampu melanjutkan kuliahnya dengan bermodalkan beasiswa.
      Konflik yang ditampilkan tidak jauh-jauh dari kehidupan mahasiswa: pergulatan atas biaya hidup dari dana beasiswa dan tentu saja konflik percintaan antara kelima sahabat menjadi gong pergolakan antar sahabat yang ditampilkan.  
      
     

Syukur

Ilustrasi: Burung Berkaki Satu 
      Tuhan kadang memberikan peringatan kepada suatu makhluk melalui makhluk ciptaan lainnya. Jika yang ingin diperingatkan adalah manusia, terkadang peringatan tersebut akan dititipkan melalui makhluk lain semisal binatang maupun tumbuhan.
      Pagi itu seekor burung menarik perhatianku. Burung itu memijak tanah, sendirian, tak berkelompok. Dengan gesit ia melompat kesana kemari mencari remah-remah makanan di tanah. Setelah kuamati dengan lebih teliti ternyata burung tersebut hanya berkaki tunggal, sehingga gerakan melompatnya tidak segesit burung-burung pada umumnya. Subhanallah.
      Burung berkaki satu tadi mengajak kita untuk selalu merenung tentang diri kita sendiri. Setiap makhluk telah diciptakan dengan segala potensi yang diberikan oleh Tuhan beserta keterbatasannya. Tuhan telah mengatur segala sesuatunya sehingga apapun yang terjadi akan berlaku sebagaimana yang digariskan oleh hukum alam, Sebagaimana burung berkaki tunggal tadi, Tuhan telah mengaturnya demikian, kekurangan fisiknya tiada menghentikannya untuk mencari penghidupan di bumi.
semangat dan jangan lupa bersyukur !

Rabu, 23 Juli 2014

Ilmu yang Terbarukan

Ibarat sebuah teko, material yang keluar adalah sama seperti material yang ada di dalamnya. Sangat tidak mungkin mengharap kopi keluar dari teko yang berisi teh. Begitu juga manusia, apa yang terucapkan olehnya merupakan cerminan dari apa yang sebenarnya aad dalam hati dan pikirannya. Kedalaman berpikir, daya nalar, tingkat pengalaman akan mempengaruhi seseorang untuk berkata-kata.
Apa yang terjadi jika ilmu kita tidak berubah dari waktu ke waktu. Bisa jadi belajar belum menjadi kebutuhan utama kita.
Itu yang saya rasakan. Perubahan waktu tidak berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pengetahuan. Ilmu yang ada di otak mandeg seiring perasaan nyaman terjebak dalam Confort Zone. Jika ditanya terhadap suatu permasalahan, jawabannya yang akan saya berikan tidak akan jauh dengan jawaban yang saya berikan jika pertanyaan tersebut diberikan pada kurun waktu sebelumnya. Bagaimana kemudian cara mengatasinya?
Seiring perjalanan waktu, permasalahan-permasalahan memerlukan pemecahan yang kadang membutuhkan solusi yang tidak konvensional, tidak melulu itu-itu saja, namun membutuhkan pendekatan yang berbeda dari yang ada.

Hal ini menuntut manusia untuk selalu berkembang, bagaimanapun keadaannya. Menyerap informasi baru, menggunakan perspektif baru, menggali potensi baru yang pada akhirnya akan memberikan ilmu yang terbarukan bagi si pembelajar.

Minggu, 16 Februari 2014

Kisah hidup Queeny Chang, putri taipan Tjong A Fie

Merupakan kisah kehidupan taipan asal tiongkok di Kota Medan. Hikmah singkat yang dapat saya petik adalah, sehebat apapun anda -mungkin akan dianggap bias-, wariskanlah keahlian yang anda miliki tersebut kepada orang lain, khususnya keluarga anda. :)


Rabu, 12 Februari 2014

Kakak-Adik, Lain Sifat, Beda Takdir

Judul Buku                       : Dua Saudara
Judul Asli                         : Brotherly Love
Penulis                             : Jhumpa Lahiri
Penerjemah                      : Anton WP
Penerbit                           : KATTA
Tahun Terbit                    : 2014
Jumlah Halaman               : 68 hlmn
ISBN                                : 978-979-1032-75-9

Foto sampul depan
         Dikisahkan dua bersaudara bernama Subash dan Udayan. Subash merupakan anak yang lebih tua dan Udayan, si adik.  Mereka memiliki sifat yang berbeda, Udayan, si kakak, memiliki sifat lebih penurut kepada kedua orang tuanya. Lain dengan si adik, Udayan, yang lebih tidak penurut dibanding si kakak yang tak pernah berselisih dengan Ibunya. Latar belakang cerita yang dibangun adalah daerah India pada tahun 1970-an pada masa Jawaharal Nehru.
Cerita diawali dengan kehidupan masa kecil Subash dan Udayan. Ketimpangan sosial di daerah India digambarkan melalui cerita kakak-beradik dengan lapangan golf. Mereka sering secara diam-diam keluar masuk ke dalam padan golf guna mengambil bola-bola golf sisa permainan kaum borjuis di India.
Ketimpangan sosial ini dikritisi si adik yang lebih vokal, Udayan. Udayan beranggapan bahwa India masih merupakan negara semikolonial Inggris, seolah-olah Inggris tidak pernah hengkang dari tanah India. Ketimpangan sosial ini digambarkan melalui kehidupan penghuni dalam kawasan lapangan golf yang jauh lebih mewah dan berbeda dibanding masyarakat Tollygunge, tempat kakak-beradik ini tinggal.
Cerita kemudian berkembang seiring pertambahan usia keduanya. Subash memilih melanjutkan studi ke Amerika sedangkan si adik, udayan memilih mengajar di sekolah teknik di daerahnya. Seiring perjalanan waktu, komunikasi kakak-adik ini hanya dijalin melalui surat.
Konflik mulai dimunculkan tatkala Udayan mengirimkan surat yang memberitahukan pernikahannya dengan seorang gadis bernama Gauri. Betapa terkejutnya Subash ketika mengetahui bahwa kisah cinta Udayan dan Gauri sudah dijalin bahkan sebelum Subash berangkat ke Amerika. Selanjutnya diketahui bahwa kedua orang tua mereka tidak begitu merestui pernikahan Udayan-Gauri. Selain karena menentang kebiasaan yaitu perjodohan orang tua, pernikahan Udayan-Gauri tersebut berarti melangkahi Subash, si kakak.  
Kemudian, Subash menerima telegram orang tuanya, isinya “Udayan terbunuh. Pulanglah kalau memungkinkan”.
Setelah pulang kembali ke kampung halamannya, Subash melihat sendiri kondisi yang nyata yang telah terjadi. Kondisi perpolitikan dan pemberontakan-pemberontakan serta kondisi keluarganya yang tidak harmonis –kedua orang tuanya yang tidak menyukai kakak iparnya Gauri.
Begitu terpukulnya keluarga atas kematian Udayan membuat kedua orang tuanya enggan menceritakan sebab-musabab kematian Udayan kepada Subash. Gauri pun masih belum dapat dimintai keterangan penyebab kematian suaminya tersebut hingga suatu kesempatan, Subash berhasil memperoleh penjelasan dari Gauri terkait kematian Udayan.
Pada waktu itu, polisi menggerebek rumah mereka, mencari Udayan. Udayan dicari terkait indikasi keterlibatannya pada pemberontakan-pemberontakan melawan pemerintah setempat. Awalnya mereka (Ayah mertua, Ibu mertua, dan Gauri) menolak memberikan keterangan namun akhirnya Udayan dapat ditemukan. Udayan diciduk polisi dan dibawa ke atas bukit. Dari bagian atas rumahnya, mereka dapat melihat bagaimana Udayan secara tragis dieksekusi.   
Kematian Udayan menjadi cerita pilu bagi semua anggota keluarga. Ayahnya tentunya sangat terpukul karena selaku pegawai pemerintah anaknya malah menjadi bagian dari pemberontak antipemerintah. Gauri pun dilanda pilu, karena Udayan belum sempat melihat buah cinta mereka lahir.
Penulis membagi cerita pendek ini terbagi dalam empat bab dengan alur cerita maju mudur. Alur maju ketika cerita masa kecil sampai dewasa dan alur mundur digunakan dalam penyampaian Gauri atas penyebab meninggalnya suaminya. Konflik cerita dibuat secara apik di setiap bagiannya. Apabila dibuat novel, mungkin konflik akan lebih berkembang mengingat bagian akhir cerita ditulis dengan mengambang dan memunculkan tanda tanya terkait, bagaimana kehidupan Subash dan Gauri selanjutnya?
Secara personal, saya memberi Delapan Bintang dari Sepuluh Bintang :D

Kamis, 30 Januari 2014

Changer-nya Maitre Gims

#laguyangseringdiputermingguini



Terjemahan lirik
Sumber: lyricstranslate.com

Simpan Semangat (dan Kerupukmu) dalam Wadah (dan Kaleng Kerupuk)

Jika semangat diibaratkan kerupuk, seperti apa dia?
ilustrasi : kaleng kerupuk
Sumber: id.wikipedia.org
  • Kerupuk : Sebagai pelengkap dalam makanan, menambah cita rasa masakan. Bagi beberapa yang lain, kerupuk menjadi camilan atau bahkan appetizer, dan penggugah rasa.
  • Semangat : Sebagai pelengkap hidup, menambah cita rasa pekerjaan. Bagi beberapa yang lain semangat akan memberikan passion dan guidance atas segala perbuatan.
Sebagaimana halnya krupuk yang disimpang dalam kaleng agar terjaga dan tidak melempem, semangat pun harus sering dijaga dan disimpan agar tetap terjaga dan tidak melempam.

ouooo haha

Perilaku Hoarding dan Ancaman Redenominasi

Ilustrasi Uang Receh
Sumber: merdeka.com
Kembaliannya Rp23.800 ya pak!”, begitu kalimat akhir dari kasir yang sering kita temui di swalayan modern. Dengan sejumlah nominal kembalian tersebut, kira-kira kita akan mendapatkan satu lembar uang dua puluh ribuan, satu lembar uang dua ribuan, satu lembar uang seribuan, satu keping uang lima ratus, satu keping uang dua ratus, dan satu keping uang seratus rupiah –kok mirip pelajaran sewaktu SD gini-. Secara reflek, jikalau mengalami peristiwa seperti ini biasanya saya memasukkan uang kertas kembali ke dompet sedangkan uang logam dan struk belanjaan akan masuk dalam saku celana. Uang receh ini biasanya baru saya kumpulkan dalam wadah tersendiri menjelang weekend ketika celana akan dicuci.
Kejadian seperti itu umumnya berulang lebih dari sekali. Mulai dari hal kecil seperti inil lah biasanya uang receh terkumpul dalam jumlah banyak. Dalam kondisi seperti itu, saya cenderung tidak menggubrisnya sehingga membiarkan uang logam tersebut tidak digunakan. Yak! Dalam konsisi seperti ini, saya telah melakukan Hoarding atas uang logam!.
Hoarding diartikan sebagai penimbunan (google translate). Pada aspek kehidupan seseorang, perilaku hoarding sering dikaitkan dengan kegiatan atau aktivitas atau perilaku mengumpulkan –atau lebih tepatnya menimbun- barang-barang yang sebenarnya tidak memiliki manfaat jika ditimbun. Ambil contoh barang-barang kesayangan yang enggan dibuang meski udah tidak terpakai dan tidak sesuai umur ataupun baju-baju yang tidak muat lagi namun masih dipaksakan disimpan dalam lemari. Pelaku hoarding seperti ini akan dihadapkan pada permasalahan penyimpanan barang-barang timbunan tersebut.
Perilaku Hoarding ini tentunya memiliki dampak tidak baik bagi perekonomian personal maupun secara umum. Dari sudut pandang personal, dengan tindakan hoarding, akan muncul kecenderungan untuk enggan menggunakan kembali uang receh tersebut dalam perputaran perekonomian. Jika dilakukan dalam jangka lama, potensi kegunaan uang tersebut akan semakin berkurang seiring menurunnya nilai mata uang sejalan dengan prinsip “The Future Value of Money”. Dari sisi perekonomian umum, pemerintah dalam hal ini Bank Sentral akan mengalami kesulitan likuiditas uang receh karena uang receh yang diproduksi tidak berputar dalam lalu lintas perekonomian. Jumlah uang receh yang dikeluarkan Bank Sentral akan cenderung tidak sama dengan jumlah uang receh yang digunakan dalam transaksi maupun kembali ke Bank Sentral melalui mekanisme menabung melalui bank komersial. Ketidaksamaan ini muncul sebagai akibat aksi penimbunan (hoarding) tersebut.
Hoarding dan Redenominasi
Kemunculan gagasan untuk redenominasi mata uang rupiah memang sudah menjadi perbincangan hangat kalangan pemerhati perekonomian. Jumlah nominal mata uang rupiah dipandang sudah tidak efisien lagi. Jika kita cermati, nilai mata uang yang masih dapat digunakan dalam transaksi adalah senilai Rp100,00. Nilai ini biasanya diwakili dengan uang logam warna kuning atau perak.
Adanya Redenominasi nilai mata uang rupiah diharapkan dapat membuat transaksi lebih mudah, pencatatan keuangan tidak memerlukan angka nol yang banyak dan meningkatkan daya tawar nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing. Tentunya kemanfaatan ini akan dapat diperoleh jika memenuhi prasyarat seperti kesiapan masyarakat atas kebijakan redenominasi, dan adanya pemahaman oleh masyarakat atas perbedaan redenominasi dengan sanering.
Hoarding dan redenominasi sama-sama menjadi isu penting dalam pengelolaan keuangan. Hoarding dapat berdampak mengurangi potensi kemampuan ekonomi dari uang tersebut seiting berjalannya waktu. Di sisi lain, adanya redenominasi dapat memunculkan kekhawatiran atas inflasi akibat pembulatan setelah diberlakukan redenominasi.

*Dalam Program Penghabisan Uang Logam*

Bacaan:
http://nasional.kontan.co.id/news/inflasi-menghantui-redenominasi

Senin, 27 Januari 2014

Kelas Ekonomi Menengah? Bagaimana Perannya Dalam Ekonomi Riil?

 Kelas Ekonomi Menengah secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai kelompok anggota masyarakat yang secara finasial sudah memiliki kemampuan lebih dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Beberapa ukuran digunakan untuk mengindentifikasi kelompok ini, sebagai contoh Bank Dunia mendefinisikan Kelompok Kelas Menengah sebagai “anyone making between US $10-50 per day” (siapapun yang memiliki pengeluaran sekitar 10-5- dolar amerika tiap harinya – atau sekitar Rp100.000-500.000). Mendasar dengan pengertian itu, pertama sekali patut dipertanyakan apakah kita sudah termasuk dalam golongan Kelas Menengah? Mari cek buku pengeluaran masing-masing.
Ilustrasi Pembagian Kelas Ekonomi
Sumber : economicpopulist.org
Besarnya potensi kemanfaatan dari jumlah pengeluaran minimal para kelompok ekonomi menengah ini akan memberikan manfaat bagi perekonomian lokal jika potensi ini dapat dikelola dengan baik. Meningkatnya jumlah penduduk kelas ekonomi menengah seiring peningkatan jumlah penduduk yang besar juga menjadi efek . pola konsumsi yang cukup besar ini dapat digunakan dalam mengurangi permasalahan ekonomi di masyarakat.
 Permasalahan ekonomi tidak jauh-jauh dari kemiskinan, pengangguran, dan distribusi pendapatan yang tidak merata. Lalu apakah sumbangsih seperti apa yang bisa diambil oleh kelompok Kelas Menengah ini dalam mengurangi permasalahan ekonomi tersebut?
Sebelumnya ubek-ubek mbah google terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana perilaku ekonomi dari si Kelas Menengah ini secara umum.
Pertama, sebagai kelompok yang sudah tidak lagi memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar yang primer, kelompok kelas menengah sudah meluaskan kebutuhannya pada kebutuhan sekunder dan tersier seperti hobi, fashion, dan jasa.
Kedua, sebagai kelompok yang ada di tengah-tengah, sebagian kelompok ini ditengarai belum memiliki kematangan dalam mengelola pengaluarannya. Pemenuhan kebutuhan hanya didasarkan pada keinginan –bukan kebutuhan-, mudah terpengaruh, lebih mementingkan gengsi dan citra –meski sebenarnya pendapatannya memang pas-pasan-. Namun sebagian yang lain, kelompok ini menghendaki produk yang memiliki kemampuan memenuhi kebutuhannya pada titik maksimal. Karenanya, mereka akan cenderung mencari perbandingan dan selektif dalam membeli barang tertentu. Tak jarang mereka menggunakan media sosial sebagai sarana dalam berbagi informasi barang tertentu yang menjadi kebutuhan kelompok ini.
Seperti disinggung di awal, kelompok ini memiliki potensi dalam mengurangi permasalahan ekonomi, dalam hal, pola konsumsinya diarahkan ke arah positif, sebagai berikut:
1.   Lebih mengutamakan konsumsi terhadap produksi lokal dibanding membeli barang impor. Kelompok ekonomi menengah dikenal memiliki minat tinggi atas barang impor yang dianggap memiliki kualitas paling baik dibanding produk lokal. Hal ini tentu akan meningkatkan impor atas barang-barang tersebut yang pada akhirnya malah akan membuat kita menjadi pasar bagi produk impor. Jelas hal ini, tidak baik bagi perekonomian
2.   Diversifikasi produk yang dikonsumsi. Sebagai kelompok yang ditengarai memiliki sifat ikut-ikutan dan fanatik terhadap suatu produk, kelompok ini sebenarnya akan dapat menyemarakkan pasar apabila mereka mendiversifikasikan produk-produk yang dikonsumsinya. Dengan berlaku demikian, akan tumbuh pasar-pasar baru yang akan mengurangi pengangguran.  
3.   Pola konsumsi tidak hanya didasarkan pada gengsi, tetapi juga didasarkan pada keinginan membantu perekonomian sektor riil. Sebagai contoh, dengan melihat tingkat gengsi, kira-kira kelompok kelas menengah akan memilih membeli cemilan di gerai junk food terkenal atau memilih ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan?. Dengan kacamata gengsi, tentulah kelompok menengah ini akan memilih membeli cemilan di gerai waralaba tadi, padahal dengan berlaku seperti itu, perputaran uang utamanya hanya akan mengalir pada pemilik modal (pemilik gerai junk food). Hal ini akan berbeda jika mereka memilih membeli cemilan di ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan tadi. Sayuran dan bahan jualan pecel tadi dibeli dari petani lokal. Secara tidak langsung, kelompok menengah akan membantu jalannya perekonomian di sektor riil.
Wis, maukah kita jadi kelas ekonomi menengah yang peduli pada perekonomian riil negara sendiri? Jadilah anggota kelas ekonomi menengah yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Bacaan:

Kamis, 28 November 2013

"This is America, Beibeh!"

Judul Buku                    : “This is America, Beibeh”
Jumlah halaman           : 310
Penulis                          : Dian Nugraheni
Penerbit                        : PT Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit                 : Juli 2013
ISBN                             : 978-979-709-729-5
Harga Buku                  : Rp59.000,00

Sampul Depan
Pada sampul depan buku ini ditulis singkat deskripsi buku, “Perjuangan seorang perempuan asal Purworejo, untuk bertahan hidup di nerei Paman Sam bersama kedua anaknya”. Pada sampul belakang buku ini ditulis bahwa si Penulis adalah Sarjana Hukum di Universitas Gajah Mada Tahun 1994 dan saat ini tinggal di Virginia setelah mendapat Green Card dari negara Amerika Serikat.
Oke, ditulis oleh orang keturunan Indonesia, yang tinggal di Amerika, menceritakan perjuangan hidup si Penulis di Amerika, membuat saya memutuskan untuk membeli buku ini. Harapan awalnya adalah akan memperoleh gambaran hidup di Amerika, bagaimana culture shock yang dihadapi si penulis di sana, dan karena ada kata sakti “perjuangan”, saya meramalkan buku ini menyuguhkan tulisan-tulisan yang dramatik.
Dan ternyata saya salah. Haha. Secara tersurat dalam sambutan penulis, dinyatakan bahwa buku ini merupakan catatan-catatan yang dibuatnya di situs jejaring sosial milik Mark Zukerberg, Facebook. Tulisan-tulisannya dibuat jenaka– padahal dugaan saya akan dramati- pada awal bagian dan sedikit lebih serius di bagian tengah sampai akhir buku.
Tak kurang dari 51 cerita yang dikelompokkan dalam 6 bahasan, meliputi: “GE Swalayan”, “Deli, Kedai Sandwich”, “Orang Amerika, “Alam Amerika”, Budaya Amerika”, dan “Sekolah Amerika”. Pada bagian-bagian awal buku kita akan lebih banyak disuguhkan cerita-cerita lucu tentang sekelilingnya di tempat kerja. Di bagian menuju akhir buku, penulis lebih banyak mencurahkan tulisan-tulisan menggunakan perasaan –karena penulisnya perempuan kali ya- terkait pendidikan dan perkembangan kedua anak perempuannya.
Pengalaman-pengalaman hidup si penulis ditulis dengan gaya jenaka. Pada akhir cerita selalu dibubuhkan catatan kaki yang menggambarkan kondisi perasaan atau kondisi nyata yang dialami si penulis pada saat membuat “catatan hariannya” ini. Sebagai contoh: “Tak ada listrik dan internet”, “Suhu minus derajad celcius”, dan “Hari ini sejuk, jangan sampai kau merasa kehilangan. Nikmati saja semilir angin akhir musim gugur ini”. Sisi positif orang Amerika juga diceritakan. Orang Amerika yang ramah dan sopan, pendidikan anak yang gratis sampai 12 tahun.
Di sisi lain, beberapa kali saya temukan ketikan yang tidak sempurna –gak banyak, tapi ada-. Selain itu, cerita yang dibangun seolah-olah si Penulis adalah single parent dalam mengarungi hidup bersama kedua putrinya di Amerika. Nama Jalu Jolang –diduga suami penulis- hanya disebut pada kata sambutan. Cerita tentang si ayah -tanpa menyebut nama- hanya diceritakan pada dua cerita, yaitu ketika si penulis menceritakan kebiasaan merokok berdua di kamar mandi dan ketika penulis bersama kedua putrinya harus menyusul si ayah karena mereka lupa membawa kunci apartemen sewaktu keluar rumah. kondisi yang demikian, membuat kita tidak mendapat gambaran yang sempurna sesuai ekspektasi saya. hehe
Buku ini ditulis dengan ringan sehingga akan cocok sebagai “pengisi jeda waktu” atau menginstirahatkan pikiran kita dari bacaan-bacaan yang berat.
Secara personal saya memberi Tujuh bintang dari Sepuluh.

*semilir angin dingin akhir bulan November* :p

Sabtu, 16 November 2013

Ketika Anda Disetir oleh Bukan Diri Anda

"Anda adalah apa yang anda makan", begitu kata pemerhati makanan.
"Anda adalah apa yang anda baca", begitu kata pecinta buku.
"Anda adalah seperti apa teman-teman dekat anda", begitu kata teman yang pernah baca hadist.

Ketiga ungkapan di atas mungkin sering kita dengar. Bagaimana kita sebagai manusia begitu dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal di sekitar kita. ketika kita bisa menyeleksi objek-objek eksternal (makanan, buku, dan teman) yang baik, tentunya akan membaikkan diri kita. 

Karena kita akan disetir oleh objek-objek eksternal, mari cari hal positif di sekitar kita !

Tambatkan idemu

Aha !”, tetiba suatu ide terbersit dalam pikiran. Sekelebat ide tersebut kemudian berkembang menjadi kerangka kasar, entah itu ide tulisan, ide terkait aktivitas maupun hal lain yang kiranya akan menarik dalam pikiran.
Namun ide itu kemudian sirna tanpa berkembang dan tereksekusi. Ya karena tidak teringat lagi gugur dalam perjalanan waktu. Hakjleb memang, ide yang bagus harus hilang tanpa dikembangkan dan saya sudah mengalaminya beberapa kali.
Ada benarnya ungkapan, “Ilmu (termasuk didalamnya ide) itu ibarat Kijang, jika tak engkau tambatkan maka ia akan lari”. Tambatan ilmu adalah catatan dan dengan mencatat kita seolah-olah menambatkan agar si Kijang –ilmu- ini tak lari, minimal jejaknya masih bisa terbaca.
Selain masalah catat-mencatat ide ini, permasalahan akan muncul lagi dalam masalah media mencatat. Beberapa kali saya mencatat ide pada kertas bekas, atau kertas tidak terpakai atau saya ketikkan pada file yang saya tahu akan tidak akan lihat lagi di kemudian hari. Mungkin alangkah lebih baik jika menyediakan buku khusus untuk menambung si ide tadi sehingga  jikalau suatu saat sedang butuh ide maka dengan mudah dapat digali dengan membuka buku ide tersebut.
Ide menjadi penting karena tidak mudah memperoleh ide yang bagus. Beberapa orang melakukan berbagai cara untuk memperoleh ide seperti dengan membaca banyak buku, sering berpegian ke tempat baru, melakukan perjalanan sendiri atau bahkan dengan merenung. Ide juga bersifat berkembang, idenya kecil namun dia akan beranak pinak dengan menjadi ide-ide lain jika dipicu. Ibarat deretan kartu domino, hanya diperlukan satu kartu yang dipicu saja untuk dapat menggerakkan seluruh kartu domino hingga kartu terakhir.  
Jadi kalo ada ide, segera eksekusi saja !