
Minggu, 16 Februari 2014
Kisah hidup Queeny Chang, putri taipan Tjong A Fie

Rabu, 12 Februari 2014
Kakak-Adik, Lain Sifat, Beda Takdir
Judul Buku : Dua Saudara
Judul Asli :
Brotherly Love
Penulis : Jhumpa Lahiri
Penerjemah : Anton WP
Penerbit : KATTA
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman :
68 hlmn
ISBN : 978-979-1032-75-9
![]() |
Foto sampul depan |
Cerita
diawali dengan kehidupan masa kecil Subash dan Udayan. Ketimpangan sosial di
daerah India digambarkan melalui cerita kakak-beradik dengan lapangan golf. Mereka
sering secara diam-diam keluar masuk ke dalam padan golf guna mengambil
bola-bola golf sisa permainan kaum borjuis di India.
Ketimpangan
sosial ini dikritisi si adik yang lebih vokal, Udayan. Udayan beranggapan bahwa
India masih merupakan negara semikolonial Inggris, seolah-olah Inggris tidak
pernah hengkang dari tanah India. Ketimpangan sosial ini digambarkan melalui kehidupan
penghuni dalam kawasan lapangan golf yang jauh lebih mewah dan berbeda
dibanding masyarakat Tollygunge, tempat kakak-beradik ini tinggal.
Cerita
kemudian berkembang seiring pertambahan usia keduanya. Subash memilih melanjutkan
studi ke Amerika sedangkan si adik, udayan memilih mengajar di sekolah teknik
di daerahnya. Seiring perjalanan waktu, komunikasi kakak-adik ini hanya dijalin
melalui surat.
Konflik
mulai dimunculkan tatkala Udayan mengirimkan surat yang memberitahukan
pernikahannya dengan seorang gadis bernama Gauri. Betapa terkejutnya Subash
ketika mengetahui bahwa kisah cinta Udayan dan Gauri sudah dijalin bahkan
sebelum Subash berangkat ke Amerika. Selanjutnya diketahui bahwa kedua orang
tua mereka tidak begitu merestui pernikahan Udayan-Gauri. Selain karena
menentang kebiasaan yaitu perjodohan orang tua, pernikahan Udayan-Gauri
tersebut berarti melangkahi Subash, si kakak.
Kemudian,
Subash menerima telegram orang tuanya, isinya “Udayan terbunuh. Pulanglah kalau
memungkinkan”.
Setelah
pulang kembali ke kampung halamannya, Subash melihat sendiri kondisi yang nyata
yang telah terjadi. Kondisi perpolitikan dan pemberontakan-pemberontakan serta
kondisi keluarganya yang tidak harmonis –kedua orang tuanya yang tidak menyukai
kakak iparnya Gauri.
Begitu
terpukulnya keluarga atas kematian Udayan membuat kedua orang tuanya enggan
menceritakan sebab-musabab kematian Udayan kepada Subash. Gauri pun masih belum
dapat dimintai keterangan penyebab kematian suaminya tersebut hingga suatu
kesempatan, Subash berhasil memperoleh penjelasan dari Gauri terkait kematian
Udayan.
Pada waktu
itu, polisi menggerebek rumah mereka, mencari Udayan. Udayan dicari terkait indikasi
keterlibatannya pada pemberontakan-pemberontakan melawan pemerintah setempat. Awalnya
mereka (Ayah mertua, Ibu mertua, dan Gauri) menolak memberikan keterangan namun
akhirnya Udayan dapat ditemukan. Udayan diciduk polisi dan dibawa ke atas
bukit. Dari bagian atas rumahnya, mereka dapat melihat bagaimana Udayan secara
tragis dieksekusi.
Kematian
Udayan menjadi cerita pilu bagi semua anggota keluarga. Ayahnya tentunya sangat
terpukul karena selaku pegawai pemerintah anaknya malah menjadi bagian dari
pemberontak antipemerintah. Gauri pun dilanda pilu, karena Udayan belum sempat
melihat buah cinta mereka lahir.
Penulis
membagi cerita pendek ini terbagi dalam empat bab dengan alur cerita maju mudur.
Alur maju ketika cerita masa kecil sampai dewasa dan alur mundur digunakan
dalam penyampaian Gauri atas penyebab meninggalnya suaminya. Konflik cerita
dibuat secara apik di setiap bagiannya. Apabila dibuat novel, mungkin konflik
akan lebih berkembang mengingat bagian akhir cerita ditulis dengan mengambang
dan memunculkan tanda tanya terkait, bagaimana kehidupan Subash dan Gauri
selanjutnya?
Secara
personal, saya memberi Delapan Bintang dari Sepuluh Bintang :D
Kamis, 30 Januari 2014
Simpan Semangat (dan Kerupukmu) dalam Wadah (dan Kaleng Kerupuk)
Jika semangat diibaratkan kerupuk, seperti apa dia?
![]() |
ilustrasi : kaleng kerupuk Sumber: id.wikipedia.org |
- Kerupuk : Sebagai pelengkap dalam makanan, menambah cita rasa masakan. Bagi beberapa yang lain, kerupuk menjadi camilan atau bahkan appetizer, dan penggugah rasa.
- Semangat : Sebagai pelengkap hidup, menambah cita rasa pekerjaan. Bagi beberapa yang lain semangat akan memberikan passion dan guidance atas segala perbuatan.
ouooo haha
Perilaku Hoarding dan Ancaman Redenominasi
![]() |
Ilustrasi Uang Receh Sumber: merdeka.com |
“Kembaliannya
Rp23.800 ya pak!”, begitu kalimat akhir dari kasir yang sering kita temui di
swalayan modern. Dengan sejumlah nominal kembalian tersebut, kira-kira kita
akan mendapatkan satu lembar uang dua puluh ribuan, satu lembar uang dua
ribuan, satu lembar uang seribuan, satu keping uang lima ratus, satu keping
uang dua ratus, dan satu keping uang seratus rupiah –kok mirip pelajaran
sewaktu SD gini-. Secara reflek, jikalau mengalami peristiwa seperti ini
biasanya saya memasukkan uang kertas kembali ke dompet sedangkan uang logam dan
struk belanjaan akan masuk dalam saku celana. Uang receh ini biasanya baru saya
kumpulkan dalam wadah tersendiri menjelang weekend
ketika celana akan dicuci.
Kejadian
seperti itu umumnya berulang lebih dari sekali. Mulai dari hal kecil seperti
inil lah biasanya uang receh terkumpul dalam jumlah banyak. Dalam kondisi seperti
itu, saya cenderung tidak menggubrisnya sehingga membiarkan uang logam tersebut
tidak digunakan. Yak! Dalam konsisi seperti ini, saya telah melakukan Hoarding
atas uang logam!.
Hoarding diartikan sebagai penimbunan (google translate). Pada aspek kehidupan
seseorang, perilaku hoarding sering
dikaitkan dengan kegiatan atau aktivitas atau perilaku mengumpulkan –atau lebih
tepatnya menimbun- barang-barang yang sebenarnya tidak memiliki manfaat jika
ditimbun. Ambil contoh barang-barang kesayangan yang enggan dibuang meski udah
tidak terpakai dan tidak sesuai umur ataupun baju-baju yang tidak muat lagi
namun masih dipaksakan disimpan dalam lemari. Pelaku hoarding seperti ini akan
dihadapkan pada permasalahan penyimpanan barang-barang timbunan tersebut.
Perilaku Hoarding
ini tentunya memiliki dampak tidak baik bagi perekonomian personal maupun
secara umum. Dari sudut pandang personal, dengan tindakan hoarding, akan muncul
kecenderungan untuk enggan menggunakan kembali uang receh tersebut dalam
perputaran perekonomian. Jika dilakukan dalam jangka lama, potensi kegunaan
uang tersebut akan semakin berkurang seiring menurunnya nilai mata uang sejalan
dengan prinsip “The Future Value of Money”. Dari sisi perekonomian umum,
pemerintah dalam hal ini Bank Sentral akan mengalami kesulitan likuiditas uang
receh karena uang receh yang diproduksi tidak berputar dalam lalu lintas
perekonomian. Jumlah uang receh yang dikeluarkan Bank Sentral akan cenderung
tidak sama dengan jumlah uang receh yang digunakan dalam transaksi maupun
kembali ke Bank Sentral melalui mekanisme menabung melalui bank komersial. Ketidaksamaan
ini muncul sebagai akibat aksi penimbunan (hoarding)
tersebut.
Hoarding
dan Redenominasi
Kemunculan gagasan
untuk redenominasi mata uang rupiah memang sudah menjadi perbincangan hangat kalangan
pemerhati perekonomian. Jumlah nominal mata uang rupiah dipandang sudah tidak
efisien lagi. Jika kita cermati, nilai mata uang yang masih dapat digunakan
dalam transaksi adalah senilai Rp100,00. Nilai ini biasanya diwakili dengan
uang logam warna kuning atau perak.
Adanya Redenominasi
nilai mata uang rupiah diharapkan dapat membuat transaksi lebih mudah,
pencatatan keuangan tidak memerlukan angka nol yang banyak dan meningkatkan
daya tawar nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing. Tentunya kemanfaatan ini
akan dapat diperoleh jika memenuhi prasyarat seperti kesiapan masyarakat atas
kebijakan redenominasi, dan adanya pemahaman oleh masyarakat atas perbedaan
redenominasi dengan sanering.
Hoarding dan
redenominasi sama-sama menjadi isu penting dalam pengelolaan keuangan. Hoarding
dapat berdampak mengurangi potensi kemampuan ekonomi dari uang tersebut seiting
berjalannya waktu. Di sisi lain, adanya redenominasi dapat memunculkan
kekhawatiran atas inflasi akibat pembulatan setelah diberlakukan redenominasi.
*Dalam Program
Penghabisan Uang Logam*
Bacaan:
http://nasional.kontan.co.id/news/inflasi-menghantui-redenominasi
Senin, 27 Januari 2014
Kelas Ekonomi Menengah? Bagaimana Perannya Dalam Ekonomi Riil?
Kelas
Ekonomi Menengah secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai kelompok anggota
masyarakat yang secara finasial sudah memiliki kemampuan lebih dalam memenuhi
kebutuhan dasarnya. Beberapa ukuran digunakan untuk mengindentifikasi kelompok
ini, sebagai contoh Bank Dunia mendefinisikan Kelompok Kelas Menengah sebagai “anyone making between US $10-50 per day” (siapapun yang memiliki
pengeluaran sekitar 10-5- dolar amerika tiap harinya – atau sekitar Rp100.000-500.000).
Mendasar dengan pengertian itu, pertama sekali patut dipertanyakan apakah kita
sudah termasuk dalam golongan Kelas Menengah? Mari cek buku pengeluaran
masing-masing.
![]() |
Ilustrasi Pembagian Kelas Ekonomi Sumber : economicpopulist.org |
Permasalahan ekonomi tidak jauh-jauh dari
kemiskinan, pengangguran, dan distribusi pendapatan yang tidak merata. Lalu apakah
sumbangsih seperti apa yang bisa diambil oleh kelompok Kelas Menengah ini dalam
mengurangi permasalahan ekonomi tersebut?
Sebelumnya ubek-ubek mbah google terlebih
dahulu untuk mengetahui bagaimana perilaku ekonomi dari si Kelas Menengah ini
secara umum.
Pertama, sebagai kelompok yang sudah tidak
lagi memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar yang primer, kelompok kelas menengah
sudah meluaskan kebutuhannya pada kebutuhan sekunder dan tersier seperti hobi,
fashion, dan jasa.
Kedua,
sebagai kelompok yang
ada di tengah-tengah, sebagian kelompok ini ditengarai belum memiliki
kematangan dalam mengelola pengaluarannya. Pemenuhan kebutuhan hanya didasarkan
pada keinginan –bukan kebutuhan-, mudah terpengaruh, lebih mementingkan gengsi
dan citra –meski sebenarnya pendapatannya memang pas-pasan-. Namun sebagian
yang lain, kelompok ini menghendaki produk yang memiliki kemampuan memenuhi
kebutuhannya pada titik maksimal. Karenanya, mereka akan cenderung mencari
perbandingan dan selektif dalam membeli barang tertentu. Tak jarang mereka menggunakan
media sosial sebagai sarana dalam berbagi informasi barang tertentu yang
menjadi kebutuhan kelompok ini.
Seperti disinggung di awal, kelompok ini
memiliki potensi dalam mengurangi permasalahan ekonomi, dalam hal, pola
konsumsinya diarahkan ke arah positif, sebagai berikut:
1.
Lebih
mengutamakan konsumsi terhadap produksi lokal dibanding membeli barang impor. Kelompok
ekonomi menengah dikenal memiliki minat tinggi atas barang impor yang dianggap memiliki
kualitas paling baik dibanding produk lokal. Hal ini tentu akan meningkatkan
impor atas barang-barang tersebut yang pada akhirnya malah akan membuat kita
menjadi pasar bagi produk impor. Jelas hal ini, tidak baik bagi perekonomian
2.
Diversifikasi
produk yang dikonsumsi. Sebagai kelompok yang ditengarai memiliki sifat
ikut-ikutan dan fanatik terhadap suatu produk, kelompok ini sebenarnya akan
dapat menyemarakkan pasar apabila mereka mendiversifikasikan produk-produk yang
dikonsumsinya. Dengan berlaku demikian, akan tumbuh pasar-pasar baru yang akan
mengurangi pengangguran.
3.
Pola
konsumsi tidak hanya didasarkan pada gengsi, tetapi juga didasarkan pada
keinginan membantu perekonomian sektor riil. Sebagai contoh, dengan melihat
tingkat gengsi, kira-kira kelompok kelas menengah akan memilih membeli cemilan
di gerai junk food terkenal atau
memilih ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan?. Dengan kacamata
gengsi, tentulah kelompok menengah ini akan memilih membeli cemilan di gerai
waralaba tadi, padahal dengan berlaku seperti itu, perputaran uang utamanya hanya
akan mengalir pada pemilik modal (pemilik gerai junk food). Hal ini akan berbeda jika mereka memilih membeli
cemilan di ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan tadi. Sayuran dan
bahan jualan pecel tadi dibeli dari petani lokal. Secara tidak langsung,
kelompok menengah akan membantu jalannya perekonomian di sektor riil.
Wis, maukah kita jadi kelas ekonomi menengah yang peduli
pada perekonomian riil negara sendiri? Jadilah anggota kelas ekonomi menengah
yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Bacaan:
Kamis, 28 November 2013
"This is America, Beibeh!"
Judul Buku : “This is America, Beibeh”
Jumlah halaman : 310
Penulis : Dian Nugraheni
Penerbit : PT Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit : Juli 2013
ISBN :
978-979-709-729-5
Harga Buku : Rp59.000,00
Sampul Depan |
Pada sampul
depan buku ini ditulis singkat deskripsi buku, “Perjuangan seorang perempuan asal Purworejo, untuk bertahan hidup di
nerei Paman Sam bersama kedua anaknya”. Pada sampul belakang buku ini
ditulis bahwa si Penulis adalah Sarjana Hukum di Universitas Gajah Mada Tahun
1994 dan saat ini tinggal di Virginia setelah mendapat Green Card dari negara Amerika Serikat.
Oke, ditulis
oleh orang keturunan Indonesia, yang tinggal di Amerika, menceritakan perjuangan
hidup si Penulis di Amerika, membuat saya memutuskan untuk membeli buku ini. Harapan
awalnya adalah akan memperoleh gambaran hidup di Amerika, bagaimana culture shock yang dihadapi si penulis
di sana, dan karena ada kata sakti “perjuangan”, saya meramalkan buku ini menyuguhkan
tulisan-tulisan yang dramatik.
Dan ternyata
saya salah. Haha. Secara tersurat dalam sambutan penulis, dinyatakan bahwa buku
ini merupakan catatan-catatan yang dibuatnya di situs jejaring sosial milik
Mark Zukerberg, Facebook. Tulisan-tulisannya
dibuat jenaka– padahal dugaan saya akan dramati- pada awal bagian dan sedikit
lebih serius di bagian tengah sampai akhir buku.
Tak kurang
dari 51 cerita yang dikelompokkan dalam 6 bahasan, meliputi: “GE Swalayan”, “Deli,
Kedai Sandwich”, “Orang Amerika, “Alam Amerika”, Budaya Amerika”, dan “Sekolah
Amerika”. Pada bagian-bagian awal buku kita akan lebih banyak disuguhkan
cerita-cerita lucu tentang sekelilingnya di tempat kerja. Di bagian menuju akhir
buku, penulis lebih banyak mencurahkan tulisan-tulisan menggunakan perasaan –karena
penulisnya perempuan kali ya- terkait pendidikan dan perkembangan kedua anak
perempuannya.
Pengalaman-pengalaman
hidup si penulis ditulis dengan gaya jenaka. Pada akhir cerita selalu
dibubuhkan catatan kaki yang menggambarkan kondisi perasaan atau kondisi nyata
yang dialami si penulis pada saat membuat “catatan hariannya” ini. Sebagai contoh:
“Tak ada listrik dan internet”, “Suhu minus derajad celcius”, dan “Hari ini
sejuk, jangan sampai kau merasa kehilangan. Nikmati saja semilir angin akhir
musim gugur ini”. Sisi positif orang Amerika juga diceritakan. Orang Amerika
yang ramah dan sopan, pendidikan anak yang gratis sampai 12 tahun.
Di sisi
lain, beberapa kali saya temukan ketikan yang tidak sempurna –gak banyak, tapi
ada-. Selain itu, cerita yang dibangun seolah-olah si Penulis adalah single parent dalam mengarungi hidup
bersama kedua putrinya di Amerika. Nama Jalu Jolang –diduga suami penulis-
hanya disebut pada kata sambutan. Cerita tentang si ayah -tanpa menyebut nama-
hanya diceritakan pada dua cerita, yaitu ketika si penulis menceritakan
kebiasaan merokok berdua di kamar mandi dan ketika penulis bersama kedua
putrinya harus menyusul si ayah karena mereka lupa membawa kunci apartemen
sewaktu keluar rumah. kondisi yang demikian, membuat kita tidak mendapat
gambaran yang sempurna sesuai ekspektasi saya. hehe
Buku ini ditulis
dengan ringan sehingga akan cocok sebagai “pengisi jeda waktu” atau menginstirahatkan
pikiran kita dari bacaan-bacaan yang berat.
Secara personal saya memberi Tujuh
bintang dari Sepuluh.
*semilir angin dingin akhir bulan
November* :p
Sabtu, 16 November 2013
Ketika Anda Disetir oleh Bukan Diri Anda
"Anda adalah apa yang anda makan", begitu kata pemerhati makanan.
"Anda adalah apa yang anda baca", begitu kata pecinta buku.
"Anda adalah seperti apa teman-teman dekat anda", begitu kata teman yang pernah baca hadist.
Ketiga ungkapan di atas mungkin sering kita dengar. Bagaimana kita sebagai manusia begitu dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal di sekitar kita. ketika kita bisa menyeleksi objek-objek eksternal (makanan, buku, dan teman) yang baik, tentunya akan membaikkan diri kita.
Karena kita akan disetir oleh objek-objek eksternal, mari cari hal positif di sekitar kita !
Tambatkan idemu
“Aha !”, tetiba
suatu ide terbersit dalam pikiran. Sekelebat ide tersebut kemudian berkembang
menjadi kerangka kasar, entah itu ide
tulisan, ide terkait aktivitas maupun hal lain yang kiranya akan menarik dalam
pikiran.
Namun ide itu kemudian sirna tanpa berkembang dan
tereksekusi. Ya karena tidak teringat
lagi gugur dalam perjalanan waktu. Hakjleb
memang, ide yang bagus harus hilang tanpa dikembangkan dan saya sudah
mengalaminya beberapa kali.
Ada benarnya ungkapan, “Ilmu
(termasuk didalamnya ide) itu ibarat Kijang, jika tak engkau tambatkan maka ia
akan lari”. Tambatan ilmu adalah catatan dan dengan mencatat kita
seolah-olah menambatkan agar si Kijang –ilmu- ini tak lari, minimal jejaknya
masih bisa terbaca.
Selain masalah catat-mencatat ide ini, permasalahan akan
muncul lagi dalam masalah media mencatat. Beberapa kali saya mencatat ide pada
kertas bekas, atau kertas tidak terpakai atau saya ketikkan pada file yang saya tahu akan tidak akan lihat lagi di kemudian hari. Mungkin alangkah
lebih baik jika menyediakan buku khusus untuk menambung si ide tadi sehingga jikalau suatu saat sedang butuh ide maka
dengan mudah dapat digali dengan membuka buku ide tersebut.
Ide menjadi penting karena tidak mudah memperoleh ide yang
bagus. Beberapa orang melakukan berbagai cara untuk memperoleh ide seperti
dengan membaca banyak buku, sering berpegian ke tempat baru, melakukan
perjalanan sendiri atau bahkan dengan merenung. Ide juga bersifat berkembang,
idenya kecil namun dia akan beranak pinak dengan menjadi ide-ide lain jika
dipicu. Ibarat deretan kartu domino, hanya diperlukan satu kartu yang dipicu
saja untuk dapat menggerakkan seluruh kartu domino hingga kartu terakhir.
Jadi kalo ada ide, segera eksekusi saja !
Kamis, 07 November 2013
"Dijajah english"
Bahasa inggris menjadi bahasa dunia ketika mayoritas orang di dunia mampu berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Masyarakat dari balahan bumi manapun mempelajari bahasa ini guna sebagai bahasa kedua selain bahasa ibu masing-masing. Dengan keberadaan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional, kita bisa berkomunikasi dengan orang Prancis atau Swedia dengan tidak menggunakan Bahasa Prancis atau Bahasa Swedia, namun menggunakan Bahasa Inggris. Dan mereka mengerti itu.
Urgensi mempelajari Bahasa Inggris acapkali membuat kita semua berupaya untuk menguasai Bahasa Inggris ini. Upaya pembelajaran dilakukan melalui berbagai cara, seperti: mengikuti kursus, belajar autodidak melalui lagu, novel, koran berbahasa inggris, mencari teman pena berbahasa inggris, sampai dengan membentuk komunitas berbahasa inggris, dan masih banyak cara lainnya.
Upaya-upaya pengayaan bahasa tersebut tidak salah, bahkan akan sangat bagus bagi personalitas seseorang. Mempelajari bahasa asing, tentunya akan membuat kita mempelajari sisi lain dunia. Dengan mempelajari salah satu bagian dari budaya lain yaitu bahasa, diharapkan kita akan smakin arif dan bijaksana sehingga akan sadar posisi terbaik dari dirinya.
Lalu apa yang salah?
Di sisi lain dari upaya pembelajaran bahasa asing ini, muncul ancaman gagap bahasa yang justru merusak bahasa itu sendiri. Gagap bahasa ini cukup tercermin dari perilaku mencampur-adukkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi, baik verbal maupun lisan. Tujuan tindakan pencampuran bahasa ini harus dikembalikan kepada pelakunya masing-masing. Ada yang memang ingin terlihat keren, ada yang belum menemukan padanan kata yang pas dalam Bahasa Indonesia atau karena alasan lain.
Sifat Bahasa Indonesia yang terbuka, membuat banyak kosakata dari bahasa asing yang dapat disesuaikan sehingga menjadi kelompok kata serapan dalam Bahasa Indonesia. Untuk itulah, ada Kamus Serapan bahasa Indonesia.
Lalu, sejauh mana kita "dijajah" english ?
Saya menggunakan istilah "dijajah", karena para pelaku pencampuran bahasa ini lebih meninggikan bahasa asingnya dibanding Bahasa Indonesia, meskipun lawan bicaranya adalah orang Indonesia tulen. Dalam kesehariannya, pelaku seperti ini akan lebih sering menggunakan "bahasa gado-gado" dalam percakapannya.
Nah, Hayo, dalam percakapan sehari-hari, seberapa sering kita menggunakan "bahasa gado-gado"?
Berikut ini daftar kata-kata gado-gado yang mungkin akan ditemui:
- "Well class, kita akan lanjut pada bahasan berikutnya", kata seorang Dosen MK Manajemen Operasional kepada para mahasiswanya
- "How could you say that?", ucapan seseorang yang heran dengan tanggapan temannya yang di luar ekspektasinya.
- "As you know, saya ini pekerja keras", cerita artis yang ingin terkenal.
Ada yang bisa menambahkan? :)
Senin, 21 Oktober 2013
Keberadaan Polisi dalam Hubungan Industrial
![]() |
Foto: kompas.com |
Hal menarik adalah adanya keterlibatan Kepolisian dalam perkara hubungan industrial ini. Oleh Presiden, Kepolisian diisntruksikan untuk:
- memantau proses penentuan dan pelaksanaan kebijakan penetapan Upah Minimum; dan
- menjaga dan menjamin terciptanya situasi keamanan serta ketertiban masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Instruksi ini mungkin sebagai reaksi atas aksi-aksi demonstrasi yang sering dilakukan oleh buruh yang terjadi dengan tidak tertib, seperti:
- Demonstrasi dilakukan dengan melumpuhkan akses jalan yang digunakan masyarakat
- Demonstrasi dilakukan secara anarkis dan mengganggu ketertiban umum di tempat umum
- Demonstrasi dilakukan dengan merusak fasilitas umum atau aset-aset negara
- Demonstrasi dilakukan dengan melakukan intimidasi kepada buruh yang tidak ikut demonstrasi
Sibukkan pikiranku, atau pikiranku akan menyibukkanku
Kendali ada pada diri kita, kendali ada di pikiran kita.
Dalam hadist kedua belas Hadist Arbain dituliskan:
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)
Tidak bermanfaat itu tidak baik maka perlu ditinggalkan. Begitu banyak waktu yang dibuang untuk mengurusi hal-hal yang langsung maupun tidak langsung, telah terbukti tidak memberikan dampak positif bagi kita.
![]() |
Foto: nytimes.com |
Ekses dari terlalu memberi perhatian pada hal tidak berguna adalah kita menjadi tidak fokus pada hal-hal yang berguna. Energi kita yang terbatas akan diporsir pada hal tidak berguna sehingga kita akan terlalu kelelahan ketika dihadapkan pada pertanyaan "Tujuanmu sebenarnya adalah bla bla bla, tapi kenapa tidak kamu capai? kemana saja kamu selama ini?"
http://muslim.or.id/hadits/meninggalkan-perkara-tidak-bermanfaat-1.html
Sabtu, 12 Oktober 2013
Benteng Jepang di Sabang
Pulau Weh, khususnya di daerah Sumur Tiga memiliki pemandangan yang indah terkait pemadangan lautnya. Salah satu pemandnagan laut yang menarik untuk dinikmati adalah pemandangan laut dari Benteng Jepang.
Fungsi benteng ini adalah sebagai persembunyian sekaligus tempat mengawasi kapal-kapal yang lewat dan mungkin akan berbahaya bagi pertahanan jepang kala itu. Benteng ini tertelak di ketinggian sehingga jangkauan pandangnya bisa jauh.
Lokasi benteng buatan ini memang agak terpencil, tidak begitu terlihat karena memang tidak ada palang pemberitahuan terkait adanya gua ini.
Lokasi benteng buatan ini memang agak terpencil, tidak begitu terlihat karena memang tidak ada palang pemberitahuan terkait adanya gua ini.
Berikut beberapa foto-foto di sekitar Gua Jepang tersebut :
Pemandangan sebelah kanan sebelum jalan masuk benteng |
Tangga naik menuju benteng |
![]() |
Kondisi kanan kiri jalan menuju benteng |
Salah satu lorong |
Pemandangan dari atas benteng |
Pemandangan dari atas benteng |
Pemandangan dari atas benteng |
Pemandangan dari atas benteng dengan bangunan pengintainya |
Pemandangan dari atas benteng |
Terlihat Gunung Seulawah Banda Aceh - Pemandangan dari atas benteng |
Pemandangan dari atas benteng |
Meriam |
Pemandangan dari dalam benteng |
Pemandangan dari dalam benteng |
Tempat istirahat dengan coret-coretan pengunjung yang mengotori |
- Resensi Buku - "Emak, Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne"
Judul : Emak, Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne
Penulis : Daoed Joesoef
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit : 2010,Cetakan Ketiga
Jumlah Halaman :
292 halaman
ISBN : 978-979-709-486-7
![]() |
Sampul Depan |
Buku
ini terbagi dalam 23 bab yang isinya mengisahkan peran dan kegiatan yang
dimainkan oleh Emak, sosok ibu dari penulis.
Dus, semua judul bab hanya akan berkisar pada Emak dan segala sesuatu di
sekitarnya, mulai dengan pemikirannya, tindak tanduknya, sampai dengan keahlian
yang dimilikinya. Judul bab seperti “Emak dan Hutan”, “Emak dan Pendidikan”
“Emak dan Kemurnian Pluralisme”, Emak dan Seni Musik” dan judul lainnya selalu
menggunakan kata Emak. Hal ini menunjukkan bahwa posisi tokoh utama ini
ditujukan untuk Emak. Sedangkan tokoh lain adalah pewarna, penguat, dan pemanis
dalam cerita-cerita yang melibatkan si Emak.
Ceita
pada Bab-bab awal lebih didominasi oleh cerita masa kecil Daoed Josoef yang
merupakan anak ketiga dari Keluarga Josoef. Sebagai anak lelaki dengan dua
orang kakak perempuan, Daoed Josoef diceritakan selalu diimanja oleh kedua
kakak langsungnya. Cerita tentang keluar masuk hutan, kehidupan masyarakat di
masa kecil pada masa kolonial akan sangat kental diceritakan dengan bahasa
lugas dan menarik.
Emak
menempatkan pendidikan anak-anaknya sebagai prioritas. Emak tidak enggan untuk
melawan pandangan-pandangan sinis masyarakat sekitarnya diwujudkan dalam
aksi-aksi ganjil dan berani terkait pendidikan kehidupan bermasayarakat kala
itu. Diantaranya berani menyekolahkan Djosoef ke sekolah berbahasa belanda, dan
membeli sepeda angin yang kala itu identik dengan noni-noni belanda.
Pembahasan
lebih serius ketika tokoh Mas Singgih masuk dalam cerita. Dikisahkan Mas
Singgih merupakan pejuang asal jawa yang sedang mengamati kehidupan masayarat
Sumatra. Mas Singgih indekos di rumah. Keberadaan Mas Singgih sering memunculkan
perbincangan-perbincangan seru namun hangat terkait persiapan kemerdekaan
Indonesia. Kecermatan dan keluasan pandangan antara Emak dan Bapak serta
kecerdasan Mas Singgih ditampilkan dalam dialog-dialog dalam cerita. Kita
selaku pembaca akan diajak menyelami pandangan-pandangan mereka terkait bentuk
negara Indonesia yang ideal, gambaran kemerdekaan di negara lain, pandangan
tentang sekulerisme dan pluralisme, dan ketidaksetujuan Emak dan Bapak apabila
agama dalam wujut syariat islam dijadikan kedok untuk memperoleh kekuasaaan
melalui tangan-tangan partai.
Alur
cerita bisa dikatakan flash back/mundur,
penulis menceritakan masa lampau namun pada bagian tertentu akan diceritakan
masa sekarang. Alur ceritanya disesuaikan dengan tema yang diangkat per babnya,
sehingga kadang dihadapkan pada kondisi usia si Daoed sudah dewasa namun di bab
berikutnya akan menceritakan masa kecilnya kembali.
Ketika
membaca buku ini, saya berharap akan banyak menemukan inspirasi tentang pendidikan
di Sorbonne, namun ekspektasi saya kiranya tidak terkabul. Namun demikian, buku
ini tetap patut untuk dijadikan penambah koleksi. Beberapa pandangan Emak
kiranya akan menambah sudut pandangan kita terhadap permasalah yang terjadi pada masanya. Dapat
dicontohkan, pandangan dan pola pikir Emak pada halaman 73 yang mengisyaratkan
perhatian yang tinggi akan ilmu pengetahuan anak-anaknya kiranya menarik untuk
dikutip, “Kau Harus berlaku seperti
batang air ini. Walaupun ia tetap terus mengalir mencapai tujuannya, ia tidak
pernah memutuskan diri barang sedetik dari sumbernya, ia tetap setia padanya”.
Terhadap
buku ini, secara personal Saya memberi Enam dari Sepuluh Bintang.
:D
Kamis, 11 Juli 2013
Senin, 17 Juni 2013
- Resensi Buku - "Long Journey Home"
Penulis :
Julius Lester
Penerbit :
Mara Pustaka
Terbit :
2012 (Cetakan Pertama)
Halaman :157
Halaman
Harga :
Rp38.000,00
“Sejarah dibuat bukan oleh satu orang. Tapi sejarah digoreskan oleh banyak orang yang seringkali usaha mereka jarang dicatat dan tidak pernah dikenal di luar lingkungan mereka.”, begitu Julius Lesner menutup pengantar dalam buku ini. Dengan alasan inilah kita tidak akan menemukan sosok besar yang dikenal secara umum namun secara apik Julius Lesner justru lebih tertarik mengangkat “sosok hebat” sebagai pribadi-pribadi yang berbuat apa adanya dalam kehidupan ini.
Cerita ini didasarkan pada kisah nyata dengan tambahan detail-detail hasil karangan penulis. Terdiri dari 6 bab, setiap babnya disajikan berdasarkan wawancara atau catatan sejarah yang dilampirkan dalam bagian Catatan di akhir buku.
Jumat, 14 Juni 2013
Keramaian dalam sebuah earphone
Earphone saya beberapa hari ini sangat ramai. Ramai dengan bunyi-bunyian pengalih perhatian. Entah musik, atau sekedar streaming, earphone saya ramai olehnya.
Beberapa alasan yang membuat saya membiarkan earphone saya ramai, adalah alasan berikut:
Beberapa alasan yang membuat saya membiarkan earphone saya ramai, adalah alasan berikut:
- Saya sedang tidak ingin terlibat percakapan dengan seseorang pun.
- Saya sedang masyuk dengan suatu materi yang ada di depan layar komputer jinjing saya.
- Earphone membantu saya mengalihkan perhatian atas sesuatu yang kurang diperkenankan yang sedang terjadi di depan saya.
- Dalam keadaaan tidak menyalakan bunyi-bunyian apapun, earphone tetap terpasang di telinga menunjukkan bahwa saya sedang ingin dianggap seolah-olah sedang tidak ingin terlibat percapakan dengan seseorang pun.
Entah, mungkin anda mengalami hal yang serupa. Pada beberapa hal, earphone sangat membantu anda untuk fokus namun pada hal membuat anda asri (asik sendiri) dan mengabaikan keadaan sekitar.