Minggu, 31 Agustus 2014

"Negeri Van Oranje", Bikin Nyengir dan Kaya dengan Detail


Judul Buku      : Negeri Van Oranje
Penulis            : Wahyudiningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit          : Bentang Pustaka
Tahun Terbit   : 2010 (Cetakan Ketujuh)
Jumlah Hlmn   : 478 Lembar

      Alkisah, bertemulah secara tidak sengaja 5 orang mahasiswa asal Indonesia di negeri Belanda akibat adanya gangguan pada kereta yang mereka naiki. Tersebutlah kelima mahasiwa tersebut meliputi: Irwansyah Iskandar (Banjar), Wicak Adi Gumelar (Wicak), Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri (Daus), Anandita Lintang Persada (Lintang), dan Garibaldi Utama Nugraha Atmaja (Geri).
      Kelima mahasiwa tersebut dengan kesibukan masing masing, Lintang di Leiden, Banjar di Rotterdam, Daus di Utrech, Wicak di Wageningen, dan Geri di Den Haag. Meski berlainan kota, Kelima sahabat tersebut tetap dapat terhubung melalui akses dunia maya berupa Yahoo Messenger (YM).
      Kisah kelima sahabat tersebut diceritakan dengan gaya jenaka namun tetap mengena. Detil-detil meliputi lokasi, sejarah suatu kota, hingga pola kehidupan mahasiswa disana diceritakan secara apik yang menunjukkan bahwa para penulis cukup riset atau mungkin cerita yang diangkat diilhami oleh pengalaman mereka sendiri. Hal ini membuat kemasan novel ini masih "membumi" dan masih rasional untuk disimak.
      Hal menarik bagi saya yang dikupas dalam novel ini antara lain:
  1. Akses internet yang supercepat di negara Belanda
  2. Sejarah berdirinya Universitas Leiden Belanda
  3. Budaya membaca dan menulis Jurnal bagi Mahasiswa
  4. Fasilitas Perpustakaan yang ada di Belanda
  5. Culture Shock berupa budaya membayar sendiri (tidak ditraktir) pada acara Ulang Tahun orang Belanda      
      Sebagai novel yang menggunakan mahasiwa paska sarjana sebagai tokoh utama, novel ini pada satu sisi menggambarkan berbagai suka duka kehidupan mahasiswa paskasarjana di Negara Belanda. Ada mahasiswa yang beruntung karena terlahir dari keluarga mampu, namun juga ada mahasiswa yang mampu melanjutkan kuliahnya dengan bermodalkan beasiswa.
      Konflik yang ditampilkan tidak jauh-jauh dari kehidupan mahasiswa: pergulatan atas biaya hidup dari dana beasiswa dan tentu saja konflik percintaan antara kelima sahabat menjadi gong pergolakan antar sahabat yang ditampilkan.  
      
     

Syukur

Ilustrasi: Burung Berkaki Satu 
      Tuhan kadang memberikan peringatan kepada suatu makhluk melalui makhluk ciptaan lainnya. Jika yang ingin diperingatkan adalah manusia, terkadang peringatan tersebut akan dititipkan melalui makhluk lain semisal binatang maupun tumbuhan.
      Pagi itu seekor burung menarik perhatianku. Burung itu memijak tanah, sendirian, tak berkelompok. Dengan gesit ia melompat kesana kemari mencari remah-remah makanan di tanah. Setelah kuamati dengan lebih teliti ternyata burung tersebut hanya berkaki tunggal, sehingga gerakan melompatnya tidak segesit burung-burung pada umumnya. Subhanallah.
      Burung berkaki satu tadi mengajak kita untuk selalu merenung tentang diri kita sendiri. Setiap makhluk telah diciptakan dengan segala potensi yang diberikan oleh Tuhan beserta keterbatasannya. Tuhan telah mengatur segala sesuatunya sehingga apapun yang terjadi akan berlaku sebagaimana yang digariskan oleh hukum alam, Sebagaimana burung berkaki tunggal tadi, Tuhan telah mengaturnya demikian, kekurangan fisiknya tiada menghentikannya untuk mencari penghidupan di bumi.
semangat dan jangan lupa bersyukur !

Rabu, 23 Juli 2014

Ilmu yang Terbarukan

Ibarat sebuah teko, material yang keluar adalah sama seperti material yang ada di dalamnya. Sangat tidak mungkin mengharap kopi keluar dari teko yang berisi teh. Begitu juga manusia, apa yang terucapkan olehnya merupakan cerminan dari apa yang sebenarnya aad dalam hati dan pikirannya. Kedalaman berpikir, daya nalar, tingkat pengalaman akan mempengaruhi seseorang untuk berkata-kata.
Apa yang terjadi jika ilmu kita tidak berubah dari waktu ke waktu. Bisa jadi belajar belum menjadi kebutuhan utama kita.
Itu yang saya rasakan. Perubahan waktu tidak berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pengetahuan. Ilmu yang ada di otak mandeg seiring perasaan nyaman terjebak dalam Confort Zone. Jika ditanya terhadap suatu permasalahan, jawabannya yang akan saya berikan tidak akan jauh dengan jawaban yang saya berikan jika pertanyaan tersebut diberikan pada kurun waktu sebelumnya. Bagaimana kemudian cara mengatasinya?
Seiring perjalanan waktu, permasalahan-permasalahan memerlukan pemecahan yang kadang membutuhkan solusi yang tidak konvensional, tidak melulu itu-itu saja, namun membutuhkan pendekatan yang berbeda dari yang ada.

Hal ini menuntut manusia untuk selalu berkembang, bagaimanapun keadaannya. Menyerap informasi baru, menggunakan perspektif baru, menggali potensi baru yang pada akhirnya akan memberikan ilmu yang terbarukan bagi si pembelajar.

Minggu, 16 Februari 2014

Kisah hidup Queeny Chang, putri taipan Tjong A Fie

Merupakan kisah kehidupan taipan asal tiongkok di Kota Medan. Hikmah singkat yang dapat saya petik adalah, sehebat apapun anda -mungkin akan dianggap bias-, wariskanlah keahlian yang anda miliki tersebut kepada orang lain, khususnya keluarga anda. :)


Rabu, 12 Februari 2014

Kakak-Adik, Lain Sifat, Beda Takdir

Judul Buku                       : Dua Saudara
Judul Asli                         : Brotherly Love
Penulis                             : Jhumpa Lahiri
Penerjemah                      : Anton WP
Penerbit                           : KATTA
Tahun Terbit                    : 2014
Jumlah Halaman               : 68 hlmn
ISBN                                : 978-979-1032-75-9

Foto sampul depan
         Dikisahkan dua bersaudara bernama Subash dan Udayan. Subash merupakan anak yang lebih tua dan Udayan, si adik.  Mereka memiliki sifat yang berbeda, Udayan, si kakak, memiliki sifat lebih penurut kepada kedua orang tuanya. Lain dengan si adik, Udayan, yang lebih tidak penurut dibanding si kakak yang tak pernah berselisih dengan Ibunya. Latar belakang cerita yang dibangun adalah daerah India pada tahun 1970-an pada masa Jawaharal Nehru.
Cerita diawali dengan kehidupan masa kecil Subash dan Udayan. Ketimpangan sosial di daerah India digambarkan melalui cerita kakak-beradik dengan lapangan golf. Mereka sering secara diam-diam keluar masuk ke dalam padan golf guna mengambil bola-bola golf sisa permainan kaum borjuis di India.
Ketimpangan sosial ini dikritisi si adik yang lebih vokal, Udayan. Udayan beranggapan bahwa India masih merupakan negara semikolonial Inggris, seolah-olah Inggris tidak pernah hengkang dari tanah India. Ketimpangan sosial ini digambarkan melalui kehidupan penghuni dalam kawasan lapangan golf yang jauh lebih mewah dan berbeda dibanding masyarakat Tollygunge, tempat kakak-beradik ini tinggal.
Cerita kemudian berkembang seiring pertambahan usia keduanya. Subash memilih melanjutkan studi ke Amerika sedangkan si adik, udayan memilih mengajar di sekolah teknik di daerahnya. Seiring perjalanan waktu, komunikasi kakak-adik ini hanya dijalin melalui surat.
Konflik mulai dimunculkan tatkala Udayan mengirimkan surat yang memberitahukan pernikahannya dengan seorang gadis bernama Gauri. Betapa terkejutnya Subash ketika mengetahui bahwa kisah cinta Udayan dan Gauri sudah dijalin bahkan sebelum Subash berangkat ke Amerika. Selanjutnya diketahui bahwa kedua orang tua mereka tidak begitu merestui pernikahan Udayan-Gauri. Selain karena menentang kebiasaan yaitu perjodohan orang tua, pernikahan Udayan-Gauri tersebut berarti melangkahi Subash, si kakak.  
Kemudian, Subash menerima telegram orang tuanya, isinya “Udayan terbunuh. Pulanglah kalau memungkinkan”.
Setelah pulang kembali ke kampung halamannya, Subash melihat sendiri kondisi yang nyata yang telah terjadi. Kondisi perpolitikan dan pemberontakan-pemberontakan serta kondisi keluarganya yang tidak harmonis –kedua orang tuanya yang tidak menyukai kakak iparnya Gauri.
Begitu terpukulnya keluarga atas kematian Udayan membuat kedua orang tuanya enggan menceritakan sebab-musabab kematian Udayan kepada Subash. Gauri pun masih belum dapat dimintai keterangan penyebab kematian suaminya tersebut hingga suatu kesempatan, Subash berhasil memperoleh penjelasan dari Gauri terkait kematian Udayan.
Pada waktu itu, polisi menggerebek rumah mereka, mencari Udayan. Udayan dicari terkait indikasi keterlibatannya pada pemberontakan-pemberontakan melawan pemerintah setempat. Awalnya mereka (Ayah mertua, Ibu mertua, dan Gauri) menolak memberikan keterangan namun akhirnya Udayan dapat ditemukan. Udayan diciduk polisi dan dibawa ke atas bukit. Dari bagian atas rumahnya, mereka dapat melihat bagaimana Udayan secara tragis dieksekusi.   
Kematian Udayan menjadi cerita pilu bagi semua anggota keluarga. Ayahnya tentunya sangat terpukul karena selaku pegawai pemerintah anaknya malah menjadi bagian dari pemberontak antipemerintah. Gauri pun dilanda pilu, karena Udayan belum sempat melihat buah cinta mereka lahir.
Penulis membagi cerita pendek ini terbagi dalam empat bab dengan alur cerita maju mudur. Alur maju ketika cerita masa kecil sampai dewasa dan alur mundur digunakan dalam penyampaian Gauri atas penyebab meninggalnya suaminya. Konflik cerita dibuat secara apik di setiap bagiannya. Apabila dibuat novel, mungkin konflik akan lebih berkembang mengingat bagian akhir cerita ditulis dengan mengambang dan memunculkan tanda tanya terkait, bagaimana kehidupan Subash dan Gauri selanjutnya?
Secara personal, saya memberi Delapan Bintang dari Sepuluh Bintang :D

Kamis, 30 Januari 2014

Changer-nya Maitre Gims

#laguyangseringdiputermingguini



Terjemahan lirik
Sumber: lyricstranslate.com

Simpan Semangat (dan Kerupukmu) dalam Wadah (dan Kaleng Kerupuk)

Jika semangat diibaratkan kerupuk, seperti apa dia?
ilustrasi : kaleng kerupuk
Sumber: id.wikipedia.org
  • Kerupuk : Sebagai pelengkap dalam makanan, menambah cita rasa masakan. Bagi beberapa yang lain, kerupuk menjadi camilan atau bahkan appetizer, dan penggugah rasa.
  • Semangat : Sebagai pelengkap hidup, menambah cita rasa pekerjaan. Bagi beberapa yang lain semangat akan memberikan passion dan guidance atas segala perbuatan.
Sebagaimana halnya krupuk yang disimpang dalam kaleng agar terjaga dan tidak melempem, semangat pun harus sering dijaga dan disimpan agar tetap terjaga dan tidak melempam.

ouooo haha

Perilaku Hoarding dan Ancaman Redenominasi

Ilustrasi Uang Receh
Sumber: merdeka.com
Kembaliannya Rp23.800 ya pak!”, begitu kalimat akhir dari kasir yang sering kita temui di swalayan modern. Dengan sejumlah nominal kembalian tersebut, kira-kira kita akan mendapatkan satu lembar uang dua puluh ribuan, satu lembar uang dua ribuan, satu lembar uang seribuan, satu keping uang lima ratus, satu keping uang dua ratus, dan satu keping uang seratus rupiah –kok mirip pelajaran sewaktu SD gini-. Secara reflek, jikalau mengalami peristiwa seperti ini biasanya saya memasukkan uang kertas kembali ke dompet sedangkan uang logam dan struk belanjaan akan masuk dalam saku celana. Uang receh ini biasanya baru saya kumpulkan dalam wadah tersendiri menjelang weekend ketika celana akan dicuci.
Kejadian seperti itu umumnya berulang lebih dari sekali. Mulai dari hal kecil seperti inil lah biasanya uang receh terkumpul dalam jumlah banyak. Dalam kondisi seperti itu, saya cenderung tidak menggubrisnya sehingga membiarkan uang logam tersebut tidak digunakan. Yak! Dalam konsisi seperti ini, saya telah melakukan Hoarding atas uang logam!.
Hoarding diartikan sebagai penimbunan (google translate). Pada aspek kehidupan seseorang, perilaku hoarding sering dikaitkan dengan kegiatan atau aktivitas atau perilaku mengumpulkan –atau lebih tepatnya menimbun- barang-barang yang sebenarnya tidak memiliki manfaat jika ditimbun. Ambil contoh barang-barang kesayangan yang enggan dibuang meski udah tidak terpakai dan tidak sesuai umur ataupun baju-baju yang tidak muat lagi namun masih dipaksakan disimpan dalam lemari. Pelaku hoarding seperti ini akan dihadapkan pada permasalahan penyimpanan barang-barang timbunan tersebut.
Perilaku Hoarding ini tentunya memiliki dampak tidak baik bagi perekonomian personal maupun secara umum. Dari sudut pandang personal, dengan tindakan hoarding, akan muncul kecenderungan untuk enggan menggunakan kembali uang receh tersebut dalam perputaran perekonomian. Jika dilakukan dalam jangka lama, potensi kegunaan uang tersebut akan semakin berkurang seiring menurunnya nilai mata uang sejalan dengan prinsip “The Future Value of Money”. Dari sisi perekonomian umum, pemerintah dalam hal ini Bank Sentral akan mengalami kesulitan likuiditas uang receh karena uang receh yang diproduksi tidak berputar dalam lalu lintas perekonomian. Jumlah uang receh yang dikeluarkan Bank Sentral akan cenderung tidak sama dengan jumlah uang receh yang digunakan dalam transaksi maupun kembali ke Bank Sentral melalui mekanisme menabung melalui bank komersial. Ketidaksamaan ini muncul sebagai akibat aksi penimbunan (hoarding) tersebut.
Hoarding dan Redenominasi
Kemunculan gagasan untuk redenominasi mata uang rupiah memang sudah menjadi perbincangan hangat kalangan pemerhati perekonomian. Jumlah nominal mata uang rupiah dipandang sudah tidak efisien lagi. Jika kita cermati, nilai mata uang yang masih dapat digunakan dalam transaksi adalah senilai Rp100,00. Nilai ini biasanya diwakili dengan uang logam warna kuning atau perak.
Adanya Redenominasi nilai mata uang rupiah diharapkan dapat membuat transaksi lebih mudah, pencatatan keuangan tidak memerlukan angka nol yang banyak dan meningkatkan daya tawar nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing. Tentunya kemanfaatan ini akan dapat diperoleh jika memenuhi prasyarat seperti kesiapan masyarakat atas kebijakan redenominasi, dan adanya pemahaman oleh masyarakat atas perbedaan redenominasi dengan sanering.
Hoarding dan redenominasi sama-sama menjadi isu penting dalam pengelolaan keuangan. Hoarding dapat berdampak mengurangi potensi kemampuan ekonomi dari uang tersebut seiting berjalannya waktu. Di sisi lain, adanya redenominasi dapat memunculkan kekhawatiran atas inflasi akibat pembulatan setelah diberlakukan redenominasi.

*Dalam Program Penghabisan Uang Logam*

Bacaan:
http://nasional.kontan.co.id/news/inflasi-menghantui-redenominasi

Senin, 27 Januari 2014

Kelas Ekonomi Menengah? Bagaimana Perannya Dalam Ekonomi Riil?

 Kelas Ekonomi Menengah secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai kelompok anggota masyarakat yang secara finasial sudah memiliki kemampuan lebih dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Beberapa ukuran digunakan untuk mengindentifikasi kelompok ini, sebagai contoh Bank Dunia mendefinisikan Kelompok Kelas Menengah sebagai “anyone making between US $10-50 per day” (siapapun yang memiliki pengeluaran sekitar 10-5- dolar amerika tiap harinya – atau sekitar Rp100.000-500.000). Mendasar dengan pengertian itu, pertama sekali patut dipertanyakan apakah kita sudah termasuk dalam golongan Kelas Menengah? Mari cek buku pengeluaran masing-masing.
Ilustrasi Pembagian Kelas Ekonomi
Sumber : economicpopulist.org
Besarnya potensi kemanfaatan dari jumlah pengeluaran minimal para kelompok ekonomi menengah ini akan memberikan manfaat bagi perekonomian lokal jika potensi ini dapat dikelola dengan baik. Meningkatnya jumlah penduduk kelas ekonomi menengah seiring peningkatan jumlah penduduk yang besar juga menjadi efek . pola konsumsi yang cukup besar ini dapat digunakan dalam mengurangi permasalahan ekonomi di masyarakat.
 Permasalahan ekonomi tidak jauh-jauh dari kemiskinan, pengangguran, dan distribusi pendapatan yang tidak merata. Lalu apakah sumbangsih seperti apa yang bisa diambil oleh kelompok Kelas Menengah ini dalam mengurangi permasalahan ekonomi tersebut?
Sebelumnya ubek-ubek mbah google terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana perilaku ekonomi dari si Kelas Menengah ini secara umum.
Pertama, sebagai kelompok yang sudah tidak lagi memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar yang primer, kelompok kelas menengah sudah meluaskan kebutuhannya pada kebutuhan sekunder dan tersier seperti hobi, fashion, dan jasa.
Kedua, sebagai kelompok yang ada di tengah-tengah, sebagian kelompok ini ditengarai belum memiliki kematangan dalam mengelola pengaluarannya. Pemenuhan kebutuhan hanya didasarkan pada keinginan –bukan kebutuhan-, mudah terpengaruh, lebih mementingkan gengsi dan citra –meski sebenarnya pendapatannya memang pas-pasan-. Namun sebagian yang lain, kelompok ini menghendaki produk yang memiliki kemampuan memenuhi kebutuhannya pada titik maksimal. Karenanya, mereka akan cenderung mencari perbandingan dan selektif dalam membeli barang tertentu. Tak jarang mereka menggunakan media sosial sebagai sarana dalam berbagi informasi barang tertentu yang menjadi kebutuhan kelompok ini.
Seperti disinggung di awal, kelompok ini memiliki potensi dalam mengurangi permasalahan ekonomi, dalam hal, pola konsumsinya diarahkan ke arah positif, sebagai berikut:
1.   Lebih mengutamakan konsumsi terhadap produksi lokal dibanding membeli barang impor. Kelompok ekonomi menengah dikenal memiliki minat tinggi atas barang impor yang dianggap memiliki kualitas paling baik dibanding produk lokal. Hal ini tentu akan meningkatkan impor atas barang-barang tersebut yang pada akhirnya malah akan membuat kita menjadi pasar bagi produk impor. Jelas hal ini, tidak baik bagi perekonomian
2.   Diversifikasi produk yang dikonsumsi. Sebagai kelompok yang ditengarai memiliki sifat ikut-ikutan dan fanatik terhadap suatu produk, kelompok ini sebenarnya akan dapat menyemarakkan pasar apabila mereka mendiversifikasikan produk-produk yang dikonsumsinya. Dengan berlaku demikian, akan tumbuh pasar-pasar baru yang akan mengurangi pengangguran.  
3.   Pola konsumsi tidak hanya didasarkan pada gengsi, tetapi juga didasarkan pada keinginan membantu perekonomian sektor riil. Sebagai contoh, dengan melihat tingkat gengsi, kira-kira kelompok kelas menengah akan memilih membeli cemilan di gerai junk food terkenal atau memilih ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan?. Dengan kacamata gengsi, tentulah kelompok menengah ini akan memilih membeli cemilan di gerai waralaba tadi, padahal dengan berlaku seperti itu, perputaran uang utamanya hanya akan mengalir pada pemilik modal (pemilik gerai junk food). Hal ini akan berbeda jika mereka memilih membeli cemilan di ibu-ibu yang jualan pecel keliling/di pinggir jalan tadi. Sayuran dan bahan jualan pecel tadi dibeli dari petani lokal. Secara tidak langsung, kelompok menengah akan membantu jalannya perekonomian di sektor riil.
Wis, maukah kita jadi kelas ekonomi menengah yang peduli pada perekonomian riil negara sendiri? Jadilah anggota kelas ekonomi menengah yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Bacaan:

Kamis, 28 November 2013

"This is America, Beibeh!"

Judul Buku                    : “This is America, Beibeh”
Jumlah halaman           : 310
Penulis                          : Dian Nugraheni
Penerbit                        : PT Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit                 : Juli 2013
ISBN                             : 978-979-709-729-5
Harga Buku                  : Rp59.000,00

Sampul Depan
Pada sampul depan buku ini ditulis singkat deskripsi buku, “Perjuangan seorang perempuan asal Purworejo, untuk bertahan hidup di nerei Paman Sam bersama kedua anaknya”. Pada sampul belakang buku ini ditulis bahwa si Penulis adalah Sarjana Hukum di Universitas Gajah Mada Tahun 1994 dan saat ini tinggal di Virginia setelah mendapat Green Card dari negara Amerika Serikat.
Oke, ditulis oleh orang keturunan Indonesia, yang tinggal di Amerika, menceritakan perjuangan hidup si Penulis di Amerika, membuat saya memutuskan untuk membeli buku ini. Harapan awalnya adalah akan memperoleh gambaran hidup di Amerika, bagaimana culture shock yang dihadapi si penulis di sana, dan karena ada kata sakti “perjuangan”, saya meramalkan buku ini menyuguhkan tulisan-tulisan yang dramatik.
Dan ternyata saya salah. Haha. Secara tersurat dalam sambutan penulis, dinyatakan bahwa buku ini merupakan catatan-catatan yang dibuatnya di situs jejaring sosial milik Mark Zukerberg, Facebook. Tulisan-tulisannya dibuat jenaka– padahal dugaan saya akan dramati- pada awal bagian dan sedikit lebih serius di bagian tengah sampai akhir buku.
Tak kurang dari 51 cerita yang dikelompokkan dalam 6 bahasan, meliputi: “GE Swalayan”, “Deli, Kedai Sandwich”, “Orang Amerika, “Alam Amerika”, Budaya Amerika”, dan “Sekolah Amerika”. Pada bagian-bagian awal buku kita akan lebih banyak disuguhkan cerita-cerita lucu tentang sekelilingnya di tempat kerja. Di bagian menuju akhir buku, penulis lebih banyak mencurahkan tulisan-tulisan menggunakan perasaan –karena penulisnya perempuan kali ya- terkait pendidikan dan perkembangan kedua anak perempuannya.
Pengalaman-pengalaman hidup si penulis ditulis dengan gaya jenaka. Pada akhir cerita selalu dibubuhkan catatan kaki yang menggambarkan kondisi perasaan atau kondisi nyata yang dialami si penulis pada saat membuat “catatan hariannya” ini. Sebagai contoh: “Tak ada listrik dan internet”, “Suhu minus derajad celcius”, dan “Hari ini sejuk, jangan sampai kau merasa kehilangan. Nikmati saja semilir angin akhir musim gugur ini”. Sisi positif orang Amerika juga diceritakan. Orang Amerika yang ramah dan sopan, pendidikan anak yang gratis sampai 12 tahun.
Di sisi lain, beberapa kali saya temukan ketikan yang tidak sempurna –gak banyak, tapi ada-. Selain itu, cerita yang dibangun seolah-olah si Penulis adalah single parent dalam mengarungi hidup bersama kedua putrinya di Amerika. Nama Jalu Jolang –diduga suami penulis- hanya disebut pada kata sambutan. Cerita tentang si ayah -tanpa menyebut nama- hanya diceritakan pada dua cerita, yaitu ketika si penulis menceritakan kebiasaan merokok berdua di kamar mandi dan ketika penulis bersama kedua putrinya harus menyusul si ayah karena mereka lupa membawa kunci apartemen sewaktu keluar rumah. kondisi yang demikian, membuat kita tidak mendapat gambaran yang sempurna sesuai ekspektasi saya. hehe
Buku ini ditulis dengan ringan sehingga akan cocok sebagai “pengisi jeda waktu” atau menginstirahatkan pikiran kita dari bacaan-bacaan yang berat.
Secara personal saya memberi Tujuh bintang dari Sepuluh.

*semilir angin dingin akhir bulan November* :p

Sabtu, 16 November 2013

Ketika Anda Disetir oleh Bukan Diri Anda

"Anda adalah apa yang anda makan", begitu kata pemerhati makanan.
"Anda adalah apa yang anda baca", begitu kata pecinta buku.
"Anda adalah seperti apa teman-teman dekat anda", begitu kata teman yang pernah baca hadist.

Ketiga ungkapan di atas mungkin sering kita dengar. Bagaimana kita sebagai manusia begitu dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal di sekitar kita. ketika kita bisa menyeleksi objek-objek eksternal (makanan, buku, dan teman) yang baik, tentunya akan membaikkan diri kita. 

Karena kita akan disetir oleh objek-objek eksternal, mari cari hal positif di sekitar kita !

Tambatkan idemu

Aha !”, tetiba suatu ide terbersit dalam pikiran. Sekelebat ide tersebut kemudian berkembang menjadi kerangka kasar, entah itu ide tulisan, ide terkait aktivitas maupun hal lain yang kiranya akan menarik dalam pikiran.
Namun ide itu kemudian sirna tanpa berkembang dan tereksekusi. Ya karena tidak teringat lagi gugur dalam perjalanan waktu. Hakjleb memang, ide yang bagus harus hilang tanpa dikembangkan dan saya sudah mengalaminya beberapa kali.
Ada benarnya ungkapan, “Ilmu (termasuk didalamnya ide) itu ibarat Kijang, jika tak engkau tambatkan maka ia akan lari”. Tambatan ilmu adalah catatan dan dengan mencatat kita seolah-olah menambatkan agar si Kijang –ilmu- ini tak lari, minimal jejaknya masih bisa terbaca.
Selain masalah catat-mencatat ide ini, permasalahan akan muncul lagi dalam masalah media mencatat. Beberapa kali saya mencatat ide pada kertas bekas, atau kertas tidak terpakai atau saya ketikkan pada file yang saya tahu akan tidak akan lihat lagi di kemudian hari. Mungkin alangkah lebih baik jika menyediakan buku khusus untuk menambung si ide tadi sehingga  jikalau suatu saat sedang butuh ide maka dengan mudah dapat digali dengan membuka buku ide tersebut.
Ide menjadi penting karena tidak mudah memperoleh ide yang bagus. Beberapa orang melakukan berbagai cara untuk memperoleh ide seperti dengan membaca banyak buku, sering berpegian ke tempat baru, melakukan perjalanan sendiri atau bahkan dengan merenung. Ide juga bersifat berkembang, idenya kecil namun dia akan beranak pinak dengan menjadi ide-ide lain jika dipicu. Ibarat deretan kartu domino, hanya diperlukan satu kartu yang dipicu saja untuk dapat menggerakkan seluruh kartu domino hingga kartu terakhir.  
Jadi kalo ada ide, segera eksekusi saja !


Kamis, 07 November 2013

"Dijajah english"

Bahasa inggris menjadi bahasa dunia ketika mayoritas orang di dunia mampu berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Masyarakat dari balahan bumi manapun mempelajari bahasa ini guna sebagai bahasa kedua selain bahasa ibu masing-masing. Dengan keberadaan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional, kita bisa berkomunikasi dengan orang Prancis atau Swedia dengan tidak menggunakan Bahasa Prancis atau Bahasa Swedia, namun menggunakan Bahasa Inggris. Dan mereka mengerti itu.

Urgensi mempelajari Bahasa Inggris acapkali membuat kita semua berupaya untuk menguasai Bahasa Inggris ini. Upaya pembelajaran dilakukan melalui berbagai cara, seperti: mengikuti kursus, belajar autodidak melalui lagu, novel, koran berbahasa inggris, mencari teman pena berbahasa inggris, sampai dengan membentuk komunitas berbahasa inggris, dan masih banyak cara lainnya.

Upaya-upaya pengayaan bahasa tersebut tidak salah, bahkan akan sangat bagus bagi personalitas seseorang. Mempelajari bahasa asing, tentunya akan membuat kita mempelajari sisi lain dunia. Dengan mempelajari salah satu bagian dari budaya lain yaitu bahasa, diharapkan kita akan smakin arif dan bijaksana sehingga akan sadar posisi terbaik dari dirinya.

Lalu apa yang salah? 

Di sisi lain dari upaya pembelajaran bahasa asing ini, muncul ancaman gagap bahasa yang justru merusak bahasa itu sendiri. Gagap bahasa ini cukup tercermin dari perilaku mencampur-adukkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi, baik verbal maupun lisan. Tujuan tindakan pencampuran bahasa ini harus dikembalikan kepada pelakunya masing-masing. Ada yang memang ingin terlihat keren, ada yang belum menemukan padanan kata yang pas dalam Bahasa Indonesia atau karena alasan lain.  

Sifat Bahasa Indonesia yang terbuka, membuat banyak kosakata dari bahasa asing yang dapat disesuaikan sehingga menjadi kelompok kata serapan dalam Bahasa Indonesia. Untuk itulah, ada Kamus Serapan bahasa Indonesia.

Lalu, sejauh mana kita "dijajah" english ?

Saya menggunakan istilah "dijajah", karena para pelaku pencampuran bahasa ini lebih meninggikan bahasa asingnya dibanding Bahasa Indonesia, meskipun lawan bicaranya adalah orang Indonesia tulen. Dalam kesehariannya, pelaku seperti ini akan lebih sering menggunakan "bahasa gado-gado" dalam percakapannya.

Nah, Hayo, dalam percakapan sehari-hari, seberapa sering kita menggunakan "bahasa gado-gado"?
Berikut ini daftar kata-kata gado-gado yang mungkin akan ditemui:
  1. "Well class, kita akan lanjut pada bahasan berikutnya", kata seorang Dosen MK Manajemen Operasional kepada para mahasiswanya 
  2. "How could you say that?", ucapan seseorang yang heran dengan tanggapan temannya yang di luar ekspektasinya.
  3. "As you know, saya ini pekerja keras", cerita artis yang ingin terkenal.
Ada yang bisa menambahkan? :)


Senin, 21 Oktober 2013

Keberadaan Polisi dalam Hubungan Industrial

Foto: kompas.com
Pada tanggal 27 September yang lalu, Presiden mengeluarkan intruksi kepada tujuh pemegang jabatan terkait Kebijakan Penetapan Upah Minimum dalam Rangka Keberlangsungan Usaha dan Peningkatan Kesejahteraan Pekerja. Instruksi Presiden (Inpres) dimaksud ditujukan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perindustrian, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Para Gubernur, dan Para Bupati/Walikota. (Aturan Inpres bisa diunduh di sini).


Hal menarik adalah adanya keterlibatan Kepolisian dalam perkara hubungan industrial ini. Oleh Presiden, Kepolisian diisntruksikan untuk:
  1. memantau proses penentuan dan pelaksanaan kebijakan penetapan Upah Minimum; dan 
  2. menjaga dan menjamin terciptanya situasi keamanan serta ketertiban masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 
Instruksi ini mungkin sebagai reaksi atas aksi-aksi demonstrasi yang sering dilakukan oleh buruh yang terjadi dengan tidak tertib, seperti:
  1. Demonstrasi dilakukan dengan melumpuhkan akses jalan yang digunakan masyarakat
  2. Demonstrasi dilakukan secara anarkis dan mengganggu ketertiban umum di tempat umum
  3. Demonstrasi dilakukan dengan merusak fasilitas umum atau aset-aset negara
  4. Demonstrasi dilakukan dengan melakukan intimidasi kepada buruh yang tidak ikut demonstrasi




Sibukkan pikiranku, atau pikiranku akan menyibukkanku

Kendali ada pada diri kita, kendali ada di pikiran kita.

Dalam hadist kedua belas Hadist Arbain dituliskan:

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Tidak bermanfaat itu tidak baik maka perlu ditinggalkan. Begitu banyak waktu yang dibuang untuk mengurusi hal-hal yang langsung maupun tidak langsung, telah terbukti tidak memberikan dampak positif bagi kita.
Foto: nytimes.com

Ekses dari terlalu memberi perhatian pada hal tidak berguna adalah kita menjadi tidak fokus pada hal-hal yang berguna. Energi kita yang terbatas akan diporsir pada hal tidak berguna sehingga kita akan terlalu kelelahan ketika dihadapkan pada pertanyaan "Tujuanmu sebenarnya adalah bla bla bla, tapi kenapa tidak kamu capai? kemana saja kamu selama ini?"



Bahan Bacaan:
http://muslim.or.id/hadits/meninggalkan-perkara-tidak-bermanfaat-1.html

Sabtu, 12 Oktober 2013

Benteng Jepang di Sabang

Pulau Weh, khususnya di daerah Sumur Tiga memiliki pemandangan yang indah terkait pemadangan lautnya. Salah satu pemandnagan laut yang menarik untuk dinikmati adalah pemandangan laut dari Benteng Jepang.

Fungsi benteng ini adalah sebagai persembunyian sekaligus tempat mengawasi kapal-kapal yang lewat dan mungkin akan berbahaya bagi pertahanan jepang kala itu. Benteng ini tertelak di ketinggian sehingga jangkauan pandangnya bisa jauh.

Lokasi benteng buatan ini memang agak terpencil, tidak begitu terlihat karena memang tidak ada palang pemberitahuan terkait adanya gua ini. 

Berikut beberapa foto-foto di sekitar Gua Jepang tersebut :
Pemandangan sebelah kanan sebelum jalan masuk benteng

Tangga naik menuju benteng
Kondisi kanan kiri jalan menuju benteng

Salah satu lorong 

Pemandangan dari atas benteng

Pemandangan dari atas benteng

Pemandangan dari atas benteng
Pemandangan dari atas benteng dengan bangunan pengintainya

Pemandangan dari atas benteng

Terlihat Gunung Seulawah Banda Aceh - Pemandangan dari atas benteng

Pemandangan dari atas benteng

Meriam 

Pemandangan dari dalam benteng

Pemandangan dari dalam benteng



Tempat istirahat dengan coret-coretan pengunjung yang mengotori
Foto diambil sekitar tahun 2012

- Resensi Buku - "Emak, Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne"


Judul                    : Emak, Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne
Penulis                 : Daoed Joesoef
Penerbit               : Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit        : 2010,Cetakan Ketiga
Jumlah Halaman : 292 halaman
ISBN                    : 978-979-709-486-7


Sampul Depan
           Emak, atau Mak merupakan istilah untuk Ibu; orang tua perempuan atau sebutan kepada orang perempuan yang patut disebut Ibu atau sepadan dengan Ibu. Penggunaan sebutan Emak ini umumnya sering digunakan pada masyarakat Sumatera yang sedikit banyak terpengaruh oleh budaya melayu.
Buku ini terbagi dalam 23 bab yang isinya mengisahkan peran dan kegiatan yang dimainkan oleh Emak, sosok ibu dari penulis.  Dus, semua judul bab hanya akan berkisar pada Emak dan segala sesuatu di sekitarnya, mulai dengan pemikirannya, tindak tanduknya, sampai dengan keahlian yang dimilikinya. Judul bab seperti “Emak dan Hutan”, “Emak dan Pendidikan” “Emak dan Kemurnian Pluralisme”, Emak dan Seni Musik” dan judul lainnya selalu menggunakan kata Emak. Hal ini menunjukkan bahwa posisi tokoh utama ini ditujukan untuk Emak. Sedangkan tokoh lain adalah pewarna, penguat, dan pemanis dalam cerita-cerita yang melibatkan si Emak.
Ceita pada Bab-bab awal lebih didominasi oleh cerita masa kecil Daoed Josoef yang merupakan anak ketiga dari Keluarga Josoef. Sebagai anak lelaki dengan dua orang kakak perempuan, Daoed Josoef diceritakan selalu diimanja oleh kedua kakak langsungnya. Cerita tentang keluar masuk hutan, kehidupan masyarakat di masa kecil pada masa kolonial akan sangat kental diceritakan dengan bahasa lugas dan menarik.
Emak menempatkan pendidikan anak-anaknya sebagai prioritas. Emak tidak enggan untuk melawan pandangan-pandangan sinis masyarakat sekitarnya diwujudkan dalam aksi-aksi ganjil dan berani terkait pendidikan kehidupan bermasayarakat kala itu. Diantaranya berani menyekolahkan Djosoef ke sekolah berbahasa belanda, dan membeli sepeda angin yang kala itu identik dengan noni-noni belanda.
Pembahasan lebih serius ketika tokoh Mas Singgih masuk dalam cerita. Dikisahkan Mas Singgih merupakan pejuang asal jawa yang sedang mengamati kehidupan masayarat Sumatra. Mas Singgih indekos di rumah. Keberadaan Mas Singgih sering memunculkan perbincangan-perbincangan seru namun hangat terkait persiapan kemerdekaan Indonesia. Kecermatan dan keluasan pandangan antara Emak dan Bapak serta kecerdasan Mas Singgih ditampilkan dalam dialog-dialog dalam cerita. Kita selaku pembaca akan diajak menyelami pandangan-pandangan mereka terkait bentuk negara Indonesia yang ideal, gambaran kemerdekaan di negara lain, pandangan tentang sekulerisme dan pluralisme, dan ketidaksetujuan Emak dan Bapak apabila agama dalam wujut syariat islam dijadikan kedok untuk memperoleh kekuasaaan melalui tangan-tangan partai.
Alur cerita bisa dikatakan flash back/mundur, penulis menceritakan masa lampau namun pada bagian tertentu akan diceritakan masa sekarang. Alur ceritanya disesuaikan dengan tema yang diangkat per babnya, sehingga kadang dihadapkan pada kondisi usia si Daoed sudah dewasa namun di bab berikutnya akan menceritakan masa kecilnya kembali.
Ketika membaca buku ini, saya berharap akan banyak menemukan inspirasi tentang pendidikan di Sorbonne, namun ekspektasi saya kiranya tidak terkabul. Namun demikian, buku ini tetap patut untuk dijadikan penambah koleksi. Beberapa pandangan Emak kiranya akan menambah sudut pandangan kita terhadap permasalah yang terjadi pada masanya. Dapat dicontohkan, pandangan dan pola pikir Emak pada halaman 73 yang mengisyaratkan perhatian yang tinggi akan ilmu pengetahuan anak-anaknya kiranya menarik untuk dikutip, “Kau Harus berlaku seperti batang air ini. Walaupun ia tetap terus mengalir mencapai tujuannya, ia tidak pernah memutuskan diri barang sedetik dari sumbernya, ia tetap setia padanya”.

Terhadap buku ini, secara personal Saya memberi Enam dari Sepuluh Bintang.
:D