Tahun 2018
dimulai dengan gegap gempita persiapan pemilihan kepala daerah serentak. Ada beberapa
kabupaten/kota beserta provinsi yang menghelat pesta demokrasi lima tahunan
tersebut. Siklus demokrasi ini tak pelak menyedot perhatian masyarakat luas
baik yang serius maupun yang apatis terhadap proses penentuan pemimpin daerah
tersebut.
Hal yang
menjadi umum ditemukan pada masa Pilkada adalah banyak munculnya muka-muka
calon pemimpin yang bertengger di area public, entah pinggir jalan, tertempel
di pohon atau tiang listrik atau yang lebih elit, muncul pada baliho-baliho
besar sudut kota. Upaya promosi ini tak pelak merupakan suatu upaya pengenalan
diri kepada masyarakat terhadap keberanian si calon pemimpin. Dan tentunya
harapan mereka adalah agar masyarakat luas mengenali dan kemudian mencoblos
muka mereka pada saat di bilik suara nantinya.
Permasalahan muncul
tatkala upaya sosialisasi kepada masyarakat ini dilakukan dengan cara yang
kurang elegan. Pemasangan baliho maupun foto calon yang massif di area publik umumnya
mengotori area publik itu sendiri. Pohon-pohon yang menyejukkan umumnya juga
menjadi korban dari pemasangan foto-foto calon pemimpin ini.
Di sisi lain,
upaya promosi ini juga masih perlu ditinjau keefektivitasannya dalam memberikan
pilihan calon pemimpin bagi masyarakat. Calon pemimpin yang paling banyak
pasang baliho tidak menjamin akan menang dan memberikan pilihan terbaik bagi
masyarakatnya.
Lalu bagaimana
solusi yang lebih baik yang dapat dipilih?
1. Masyarakat
memang diharapkan tidak apatis terhadap politik local, sehingga masyarakat
sendirilah yang secara aktif mencari tahu alternative pilihan-pilihan calon
pemimpin yang akan dipilihnya.
2. Perlu
ada pengaturan yang ketat dalam pelaksanaan promosi/pengenalan diri bagi para
calon pemimpin ini. Contohnya: dilarang pasang baliho dengan cara dipaku di
pohon, memasang foto calon di tempat-tempat netral seperti rumah sakit,
sekolah, tempat ibadah, kantor instansi dan tempat-tempat netral lainnya. Upanya
pengaturan ini tentunya harus dipatuhi bersama dengan pengawasan yang ketat
dari aparat dan masyarakat.
3. Perlu
adanya difasilitasi dengan kegiatan-kegiatan pengenalan seperti jumpa calon
pemimpin, diskusi di tempat umum, pengenalan calon pemimpin dengan media ramah
lingkungan dan dengan pendekatan-pendekatan lainnya yang lebih bertanggung
jawab.
Beberapa hal
di atas perlu dipikirkan mengingat area publik merupakan area milik bersama
yang diharapkan dapat dinikmati bersama, memberikan kesan keindahan dan
kenyamanan bagi penghuni daerah tersebut. Pohon-pohon yang hijau bersih tentu akan lebih menyenangkan dan
enak dilihat dibandingkan dengan pohon-pohon yang ada dihuni oleh foto-foto
orang yang entah akan memimpin kita atau tidak beberapa waktu ke depan.